Apa yang harus
aku berikan untuk Ibu di Hari Ibu, tahun ini?
Membelikan
bunga, kue, atau hadiah lainnya sudah sangat mainstream, dan sifatnya serimonial
belaka. Upload foto bersama Ibu
di media sosial, dengan caption
puitis, nah itu apa lagi... sudah terlalu umum. Butuh sesuatu yang baru tahun
ini.
Terpikirlah
ide untuk menulis surat untuk ibu. Sebuah ide, yang muncul dari sebuah linimasa.
Ide ini
memunculkan permasalahan lain. Aku tidak pernah lagi menulis surat. Surat
terakhir yang aku tulis adalah surat lamaran pekerjaan. Dan itupun sudah lama
sekali. Setelah itu, tak ada lagi satu lembar surat pun yang pernah aku tulis.
Sungguh kemajuan teknologi telah merusak budaya surat-menyurat.
Maafkan
wahai ibu/bapak guru bahasa Indonesia. Seandainya surat ini nanti tidak sesuai
dengan kaidah yang pernah kalian ajarkan kepadaku dulu, di bangku sekolah.
IBU,
Mengawali
surat ini, aku ingin mengucapkan permohonan maaf.
Maaf,
karena belum bisa mempunyai karier yang bagus.
Maaf,
karena belum bisa membelikan rumah yang ada kolam renangnya.
Maaf, karena
belum juga bisa memberimu menantu.
Dan maaf,
atas semua perbuatanku yang lain, yang mungkin menjadi penyebab dirimu kecewa...
Berikutnya,
aku ingin mengucapkan terima kasih.
