Selat Bali adalah nama sebuah selat yang memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Bali. Menurut legenda, kedua pulau itu dulunya adalah satu kesatuan daratan. Daratan yang kemudian terpisah oleh sebuah peristiwa ajaib.
Tersebutlah di
Kerajaan Daha, terdapat sebuah desa yang terletak di wilayah Kediri, Jawa Timur.
Disana hiduplah seorang brahmana yang bernama Empu Sidi Mantra. Sang Empu
adalah seorang yang sangat disegani, berbudi luhur, dan memiliki pengetahuan
agama luas. Ia juga dikenal sebagai seorang pendeta sakti mandraguna.
Ketekunannya dalam melakukan tapa berata dan semedi, membuat para Dewa sangat menyayanginya.
Atas ketekunannya tersebut, Bhatara Siwa menganugrahi sang Empu harta yang
melimpah, serta seorang istri yang amat cantik. Pasangan tersebut pun hidup
dalam kebahagian.
Hingga
suatu hari, sang istri berkeluh kesah kepada suaminya. “Suamiku, kita sudah cukup
lama berumah tangga. Aku sangat bahagia menjadi sebagai istrimu, hanya saja
sampai kini kita belum juga memiliki anak. Apakah engkau sudah mencoba memohon
kepada para Dewa?”
“Istriku bersabarlah,
malam ini aku akan mencoba lagi bersemedi dan memohon anugrah kepada para Dewa.”
Demikianlah
kegundahan hati sang istri. Kodratnya sebagai seorang wanita, sudah sangat
merindukan untuk menimang anak. Empu Sidi Sastra mengerti kegundahan sang
istri. Maka malam harinya sang Empu mulai melakukan semedi di kamar suci, dekat
areal rumahnya. Beberapa kali sudah ia melakukan semedi, hanya saja belum
kunjung memperoleh hasil. Hingga akhirnya, malam itu Bhatara Siwa menampakkan
wujudnya.