“Bangun Do,
bangun...”
Sayup-sayup
diantara lelapnya tidur aku mendengar suara. Pelan-pelan kesadaranku pulih. Aku
merasakan tubuhku terguncang-guncang. Kurasakan panasnya matahari menyentuh
kakiku. Pasti korden kamarku sudah terbuka.
“Bangun
nggak? Aku siram air nih!” Mengganggu banget sih ni orang, begitu pikirku.
Masih ngantuk tahu, umpatku dalam hati.
Suara itu
tetap berteriak-teriak, sampai kesadaranku benar-benar pulih. Ya ampun, aku
mengenal suara itu. Suara seorang wanita. Kenapa dia bisa ada di kamarku? Pasti
ibuku yang memberi dia ijin masuk. Ibuku memang sangat menyukai dirinya. Ibarat
sosok anak gadis yang tidak pernah dia miliki, mengingat anak-anaknya semua lelaki.
“Iya, iya
bentar lagi,” ucapku enggan. Kutarik lagi selimut menutupi tubuhku.
Tidak
lama selimut itu kembali tergeser. Pergi menjauh dari tubuhku. Akhirnya aku
menyerah. Dengan penuh keengganan aku bangkit. Dengan berat hati aku buka
mataku. Ternyata dugaanku tidak salah. Dia memang Marisha. Teman, sahabat,
pacar? Duh nggak ngerti deh sama hubungan kami. Nyaman jalan berdua, kami tidak
pernah memperjelas status hubungan kami. Nanti juga kalian akan mengerti.
Semoga, karena aku sendiri tidak mengerti.
