Tampilkan postingan dengan label Ngebolang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngebolang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Agustus 2018

Memori (lain) di Ketinggian 1717


Gunung Batur
Sudah lama tidak berpetualang, akhirnya kesempatan itu datang. Gunung Batur, yang berlokasi di daerah Kintamani, Bangli, pun jadi pilihan. Gunung yang memiliki tinggi 1.717 meter dari permukaan laut ini, bagi saya punya banyak sekali memori. Ini asalah kali kesekian saya mendaki Gunung Batur. Setiap pendakian selalu punya memorinya tersendiri. Biasanya kan saya berpetualang sendirian tuh. Kali ini saya bertemu dengan empat teman, yang punya hobi yang sama. Berpetualang. Maka, berlima kami ciptakan memori (lain) di ketinggian 1717.
Berawal dari obrolan ringan di lapangan, Maya mengajak saya untuk mendaki. Salah satu teman di grup badminton. Ada teman dia, yang berprofesi guide, punya schedule mendaki bersama bule Jepang. Kebetulan Maya juga mau bayar kaul, akan mendaki kalau proyeknya lancar. Namanya diajakin berpetualang ke alam, kalau memang punya waktu, nggak mungkin saya tolak. Apalagi dari dulu saya memang ingin mencoba untuk mendaki lagi. Sekedar menguji kebugaran tubuh. Apakah di umur kepala tiga ini, saya masih sanggup untuk mencapai puncak. Dan garis dimensi kami bertiga pun beririsan di Gunung Batur. Ngobrol, ngobrol, ngobrol, diputuskan lalu tanggal 17 Agustus malam, menjadi hari H pendakian.

Selasa, 07 November 2017

Air Terjun Sekumpul: Tujuh Panorama Pemanja Indera


Sekumpul Waterfall
Setelah beberapa minggu terbelit kesibukan adat dan agama, akhirnya minggu ini ada juga waktu kosong. Kesempatan ini saya pakai untuk ‘ngebolang’. Dikarenakan kondisi daerah Bali timur masih rawan, maka jalan-jalan diarahkan ke Bali barat. Barat atau utara? Entahlah. Nilai geografi saya dari dulu memang tidak pernah bagus. Kabupaten Buleleng pun kemudian menjadi pilihan. Lebih spesifiknya lagi air terjun Sekumpul, yang berlokasi di Desa Lemukih.
Kenapa musti air terjun ini? Jelas ada latar belakangnya dong. Mbah Google, menginformasikan kalau air terjun Sekumpul memiliki keunikan, yang berbeda dengan panorama sejenis lainnya. Jika objek lain hanya punya satu air terjun, maka objek yang satu ini punya tujuh. Iya, tujuh air terjun, langsung di satu lokasi. Sungguh menggugah rasa penasaran saya.
Minggu pagi sekitar jam sepuluh, saya berangkat menuju lokasi. Rute yang saya ambil adalah jalur Mengwi-Bedugul-Singaraja. Menurut saya jalur ini paling nyaman. Pemandangannya keren dan udaranya sejuk. Awalnya saya pikir perlu masuk kota Buleleng untuk sampai ke lokasi. Ternyata begitu masuk desa Gigit, kira-kira dua kilometer, plang air terjun Sekumpul sudah terlihat. Guna memastikan saya bertanya ke warung di dekat plang terpasang. Sengaja saya tidak pakai aplikasi penunjuk lokasi di android. Lebih suka pakai ‘aplikasi congor’, alias tanya-tanya orang sekitar. Katanya sih interaksi dengan orang baru itu menyehatkan mental. Dari informasi pemilik warung, belok ke kanan memang arah menuju air terjun Sekumpul.

Rabu, 28 Juni 2017

Ngebolang: Satu Hari, Dua Destinasi


Minggu lalu kegiatan ‘ngebolang’ (baca: jalan-jalan, sekalian cuci mata), saya jadwalkan menuju kabupaten Bangli. Satu-satunya kabupaten di Bali, yang tidak memiliki pantai. Dengar-dengar di sana ada sebuah air terjun keren. Namanya air terjun Kuning. Nama Kuning, berasal dari nama desa dimana lokasi air terjun itu berada. Kenapa air terjun lagi? Kan sudah bilang saya suka mainan air. Nggak ada pantai, air terjun (lagi) pun jadi.
Sedikit anekdot sebelum memulai. Kecintaan saya pada air ini pernah menjadi guyonan teman. Katanya, “Kamu ini Aries, kambing gunung kok suka main air?” Saya jawab, “Aku ini Pisces yang terjebak di tubuh Aries.” Balik dia berujar, “Oh pantesan nggak agresif.” Loh, pernyataan macam apa itu? Maksudnya apa? Oke garing, skip...
Perjalanan pun dimulai. Saya memilih lewat Batubulan, ketimbang Bypass Ida Bagus Mantra. Tidak ada sebab khusus sih, cuma lagi pengen aja. Tiba di Desa Blahbatuh, saya melihat sebuah plang bertuliskan: “Blangsiang Waterfall”. Sebagai pencinta air yang jatuh dari ketinggian, tentu saya penasaran. Apalagi di plang itu bertuliskan hanya 500 meter, masuk dari Pasar Yadnya, Blahbatuh. Boleh juga nih kalau mampir sebentar, pikir saya. Maka saya ikuti panah penunjuk jalan, dan petualangan saya pun dimulai.

Rabu, 15 Februari 2017

Melelahkan Tetapi Menyenangkan


Nung-Nung Waterfall
Petualangan kali ini membawa saya ke Kabupaten Bandung. Desa Plaga, Kecamatan Petang, tepatnya. Akhir-akhir ini saya memang lagi suka banget berpetualang. Paling tidak ke objek-objek wisata di Bali. Malu juga sih sebagai orang Bali, kalau tidak tahu keindahan Bali. Kebetulan saya juga sedang keranjingan hobi baru, yaitu fotografi. Maklum kamera baru sih, membuat tangan jadi gatal mengutak-atik hehehe...
Nah, di Desa Plaga ini ada sebuah air terjun yang indah. Informasi ini saya dapat dari teman yang berprofesi sebagai pemandu wisata. Dia merekomendasi air terjun ini untuk saya datangi. Maka berangkatlah saya dari Denpasar, menjelang tengah hari. Ternyata letaknya cukup jauh. Menghabiskan waktu selama hampir dua jam perjalanan. Panjangnya perjalanan sebagian besar disebabkan adanya jalan yang putus di daerah Petang. Jalan alternatif yang harus ditempuh jadi memutar jauh. Namun, tidak saya sesali sih, karena alam hijau disepanjang perjalanan benar-benar memanjakan mata. Suasana asri dan alami pedesaan benar-benar terasa. Cocok bagi anda yang ingin sejenak melepas lelah dari hiruk-pikuknya perkotaan.
Sampai di pintu masuk, ada sebuah pos karcis di sebelah kanan. Saya langsung disambut oleh seorang bapak paruh baya yang ramah. Sebelum turun ke areal parkir saya coba tanya-tanya sedikit informasi ke bapak itu. Maklum ini pertama kali saya datang ke tempat tersebut. Ternyata penjelasan si bapak sama dengan gambaran dari teman saya. Saya harus bersiap diri latihan fisik menuruni ratusan anak tangga, terutama lutut dan paha. Setelah membayar karcis masuk objek wisata, sebesar 7.500 rupiah, saya parkir kendaraan. Di sudut areal parkir ada sebuah warung sederhana. Warung itu dijaga oleh seorang nenek yang ramah. Nenek itu menunjuk ke sebuah gapura berukiran bali, yang merupakan jalan masuk menuju air terjun Nung-Nung.