Minggu, 18 Desember 2016

Obrolan Ringan Di Suatu Petang




***
“Tokoh Amara ini beneran ada nggak?”
Seriously? Diantara berjuta pertanyaan yang bisa kamu pilih, itukah pertanyaan pertama yang muncul di kepalamu?”
Sahabatku itu tertawa. Terkekeh sih tepatnya.
“Aku hanya mengikuti naluriku sebagai laki-laki. Kalau benar si Amara ini ada di dunia nyata, aku benar-benar tertarik untuk bertemu dengannya.”
Aku hanya menggelengkan kepala. Kuambil botol bir di meja dan menegak isinya. “Mari kita anggap saja dia tidak ada. Sebuah tokoh fantasi yang aku ciptakan sendiri.”
Sahabatku tertawa. Kali ini terbahak, sampai terbatuk. “Tidak percaya aku dengan kata-katamu itu. Gambaranmu tentang dirinya terlalu nyata, sungguh terlalu nyata teman...”
“Nyata atau tidaknya dia sepertinya bukan menjadi sebuah masalah, mengingat plotnya berakhir tidak dengan bahagia.”
“Bagaimana sebuah tulisan itu berakhir sepenuhnya ada di tangan penulisnya. Itu adalah sebuah pilihan, dan kamu memilih untuk mengakhirinya dengan air mata. Kenapa?”

Minggu, 27 November 2016

Dalam Benak Seorang Calon Ayah


Bailey    : So, Max?
Charlie  : It’s better this way. Marvin and Debra have the money. Max is settled.
Bailey    : I saw the way he looked at you. Charlie, that’s the way I looked at my dad.
Charlie  : Come on!
Bailey    : Even now. I’d give anything to have that back.
Charlie : Your dad… your dad was special. He was… he was in your corner from day one. Me? Come on, I blew it! I blew it. When Max was born I just freaked out, I just…
Bailey    : Something is better than nothing.
Charlie  : I just wouldn’t know where to start.

Max and Charlie

Deretan dialog diatas berasal dari film ‘Real Steel’. Entah sudah berapa kali saya menonton film tersebut, namun rasa yang muncul tetap saja sama. Film ini menarik di mata saya bukan hanya karena special efect-nya yang keren, namun juga karena jalan ceritanya yang menyentuh. Sebuah perpaduan gendre action dan drama yang menarik. Film ini memunculkan sebuah pertanyaan dalam benak saya, “Apakah nanti saya akan bisa jadi sosok ayah yang baik untuk anak saya?”

Minggu, 13 November 2016

Menjadi Ketiga


I love you?

Selama janur kuning belum melengkung masih ada peluang buat nikung. Selama bendera kuning belum berkibar masih ada peluang buat bubar.
Pernahkah anda mendapat nasehat “kampret” macam gini? Saya pernah, bahkan sering. Saya kadang jadi berpikir kalau dewasa ini manusia sudah tidak lagi menghormati sebuah hubungan. Pacaran bukan lagi sebuah status yang sakral, bahkan demikian pun pernikahan. Mendekati pacar atau istri orang sudah tidak lagi tabu dilakukan. Kalau sudah suka sama suka, mau bilang apa. Itu alasan yang paling sering dipakai sebagai alasan pembenar, selain kalau sekarang adalah jaman modern. Modern nenek loh!
Untuk masalah yang satu ini, saya bisa digolongkan sebagai orang kuno. Saya tidak suka mengganggu hubungan orang lain. Baik itu pacaran maupun pernikahan. Seberapa cantik dan menariknya wanita itu, saya akan berusaha menjaga jarak bila dia sudah memiliki pasangan. Menjaga jarak bukan berarti tidak berinteraksi sama sekali, bukan sama sekali. Menjaga hati mungkin bisa disebut lebih tepatnya. Hati dia dan hati saya sendiri tentunya. Entah sudah berapa kali saya naksir wanita yang memiliki pasangan. Beberapa malah saya tahu kalau dia pun memiliki perasaan yang sama. Namun, sekali lagi prinsip adalah prinsip. Saya pun ingin bila nanti mendapat pasangan akan memiliki prinsip yang sama. Bila dia sudah berkomitmen dengan saya, maka saya meminta dia untuk menghormati komitmen itu. Bila pun nanti tidak mendapati kecocokan sepanjang perjalanan, maka itu persoalan lain.

Rabu, 02 November 2016

Inferno: Neraka Yang Berakhir Surga


The darkest places in hell are reserved for those who maintain their neutrality in times of moral crisis


Inferno Novel
Penggalan kalimat tersebut dipilih Dan Brown sebagai pembuka dari novelnya, Inferno. Tulisan ini bisa dibilang sebuah review super duper telat, mengingat novel ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sejak tahun 2013. Saya tertarik membaca Inferno karena menjelang akhir tahun 2016, buku ini akhirnya difilmkan dengan judul yang sama. Saya selalu menyukai film-film yang diadopsi dari karya-karya Dan Brown, seperti The Davinci Code dan Angels & Demons. Jujur untuk dua judul tadi saya lebih dulu menonton filmnya baru kemudian membaca novelnya. Nah khusus untuk Inferno ini, saya lakukan hal yang sebaliknya. Sekedar ingin mencoba sesuatu yang berbeda, dan saya menyesal telah melakukannya.
Seperti kebanyakan novel yang diadopsi ke layar lebar, masalah durasi memang menjadi momok yang sangat menakutkan. Sebuah buku setebal 639 halaman (versi bahasa Indonesianya), harus dituturkan dalam gambar bergerak selama 121 menit. Akibatnya harus ada beberapa plot yang dikorbankan. Konsekuensi dari membaca novel Inferno sebelum menonton filmnya, adalah saya jadi tahu plot-plot mana yang dibuang. Hal ini jelas memunculkan kekecewaan tersendiri. Dalam imajinasi saya adegan kejar-kejaran di kota Firenze, Italia dan juga Istambul, Turki berlangsung begitu hebat, namun tidak demikian dengan adegan di filmnya. Demikian pun dengan uraian detail lokasi-lokasi bersejarah di kedua negara tersebut dalam novel, seakan tidak tergambar jelas di filmnya. Detail yang menjadi kekuatan dari novel ini seakan menguap saat difilmkan. Namun, sekali lagi untuk novel apapun yang difilmkan, durasi waktu pastilah menjadi musuh terbesar.

Rabu, 26 Oktober 2016

German Cinema: Dari Jerman Untuk Dunia


German Cinema

Denpasar mendapatkan kesempatan untuk menjadi tuan rumah German Cinema Festival 2016. Acara ini merupakan hasil kerja sama antara Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institut dengan Bentara Budaya Bali, serta didukung oleh Sehati Production. Dari tanggal 20-22 Oktober 2016, di XII Mall Bali Galeria, Denpasar kebagian 9 (sembilan) jatah film. Dari kesembilan film itu, disela-sela jadwal kerja, saya cukup beruntung untuk dapat menyaksikan langsung 2 (dua) film. Kedua film itu berjudul “Victoria” dan “Ein Atem” – One Breath.
Pada kesempatan ini, saya akan mencoba mengulas kedua film tersebut dari kaca mata orang awam. Saya akan mencoba agar tulisan ini tidak menjadi spoiler untuk mereka yang belum menonton. Baik kita mulai saja dari film pertama, VICTORIA.
Ini bukan ide biasa: Membuat satu film utuh dalam satu kali pengambilan gambar, tanpa trik teknis, tanpa pengaman maupun tipuan, dan dengan resiko penuh. Itulah yang dilakukan Sebastian Schipper dan timnya dengan sangat berhasil. Salah satu film Jerman paling menggairahkan dalam beberapa tahun terakhir! Victoria mengajak kita berkeliaran pada malam hari di Berlin, dan memperlihatkan apa saja yang dapat direalisasikan melalui film.” Kutipan singkat inilah yang membuat saya tertarik untuk menonton film Victoria. Apakah mungkin sebuah film berdurasi 136 menit dapat diambil hanya dalam sekali pengambilan gambar?

Rabu, 27 Juli 2016

Tiga Rahasia


Cerpen Femina dimuat di Femina No. 50/2012, oleh redaktur tokoh perokok diedit menjadi klubber. Femina mempunyai kebijakan “against smoking habits”, versi di bawah adalah versi aslinya.
Oleh : Jihan Davincka (davincka@gmail.com)
***
Mengenakan rok pendek merah menyala, kemeja krem muda, seorang perempuan berambut pendek turun dari sedan mewahnya. Dengan tubuh langsing dan wajah menarik, ia melangkah penuh percaya diri meninggalkan tempat parkir. Beberapa pasang mata ikut mengiringi langkahnya memasuki pintu kafe.
Seorang perempuan berkaus hitam melempar sepuntung rokok yang masih menyisakan bara ke tanah dan menginjaknya kuat-kuat. Dia menepuk-nepuk pahanya, mengibas tangannya ke udara berharap tak ada sisa asap yang menempel di sekujur tubuhnya. Dengan santai, ia membuka pintu kafe dan langsung menebarkan pandangan mencari-cari.
Perempuan dengan terusan warna hijau tua terlihat berlari-lari kecil menuju pintu kafe. Rambut ikal panjangnya yang tergerai ikut melambai-lambai. Sambil berlari, sesekali ia mengangkat lengan kiri, melirik jam tangan yang melingkar di sana.
Di suatu sore yang cerah, ketiga perempuan itu duduk bersantai di suatu kafe di sudut jantung ibukota.
***
“Apa kau masih merokok?” si Rambut Ikal menoleh ke arah perempuan berkaus hitam.
“Sudah lama berhenti,” Kaus Hitam menjawab cepat tanpa ragu.
“Hebat kau. Sejak berhenti bekerja, hidupmu malah lebih teratur. Aku dari dulu tak suka melihatmu merokok.”
Kaus Hitam memalingkan wajah ke Rok Merah, “Siapa yang bisa melebihi kehebatan Bu Dokter cantik sepertimu. Eh, apa masih ada pasien yang suka menggodamu?”
Rok Merah tertawa berderai. “Sekarang aku praktik di tempat yang sama dengan suamiku. Mana ada yang berani macam-macam.”

Selasa, 19 Juli 2016

Sang Juara Yang Dinaungi Dewi Fortuna


Euro 2016 Champion

Perhelatan Euro 2016 telah berakhir, seminggu yang lalu. Partai final berhasil dimenangi secara dramatis oleh Portugal. Dan saya baru menulis tentang laga final itu sekarang. Telat memang, telat banget malah. Namun, saya akan merasa berdosa kepada Portugal kalau tidak menulisnya, mengingat saya sudah menulis tentang Euro 2016 sejak babak 16 besar. Entah kenapa beberapa hari ini saya dihinggapi rasa malas untuk menulis. Sebuah penyakit rutin seorang penulis. Seperti batuk-pileknya orang pada umum-lah kira-kira. Yah, maka anggap saja tulisan ini sebuah tulisan penebusan dosa hehehe…
Seperti seluruh pencinta bola dunia telah ketahui, Cristiano Rolando dkk. akhirnya mengangkat tropi Euro untuk pertama kalinya. Sebuah hal yang sangat tidak diduga-duga oleh siapa pun di dunia. Menimbang bagaimana perkasanya tuan rumah Perancis di laga-laga sebelumnya. Saking percaya dirinya, pemerintah Perancis bahkan sudah menyiapkan lokasi dan bus khusus untuk dipakai merayakan kemenangan. Namun kenyataan berkata lain. Dewi Fortuna rupanya masih tetap menyayangi Portugal. Sampai di partai terakhir, Sang Dewi masih menaungi sang juara.