![]() |
| Ben & Jody |
“Ben? Ben?”
Jody mengetuk pintu
kamar untuk ketiga kalinya. Diulanginya sekali lagi. Tetap tidak terdengar
jawaban yang ditunggunya. Jody pun memutuskan untuk membuka pintu. Dilakukannya
secara perlahan. Kagetlah dia saat melihat Ben meringkuk di pojok kamar, dalam
kegelapan. Kondisi Ben terlihat berantakan, benar-benar berantakan. Bahkan kalau
dilihat-lihat, gelandangan pun akan kalah bila dibandingkan kondisi Ben saat
ini. Dua hari sudah Ben tidak keluar kamar. Bau apek mulai mengganggu penciuman
Jody. Ditambah bau badan dan pakaian Ben, yang sudah sekian lama tidak terkena
air dan sabun. Udara memang tidak masuk ke dalam kamar. Demikian pula sinar
matahari. Terhalang oleh daun jendela dan kain korden yang tertutup rapat.
Jody menyapu pandangan
matanya ke sekeliling. Rupanya Ben telah menyulap kamar itu menjadi sebuah
“laboratorium” mini. Bubuk dan biji kopi bertebaran di lantai. Demikian pula di
atas meja. Botol dan gelas kaca ikut berserakan di sana. Mesin pembuat kopi turut
pula “menghiasi” meja panjang tersebut. Mesin itu terlihat lelah, sama seperti
layaknya Ben. Jody harus mencegah si pemilik kamar untuk melihat kekacauan ini.
Dia menyewa kamar itu dari salah satu teman, atas permintaan Ben yang kini disesalinya.
“Gila Ben,
berantakan banget nih kamar.”
Ketika Jody
hendak membuka korden, Ben berteriak mencegahnya. “Jangan dibuka!”
Jody membatalkan
niatnya tersebut. Didekatinya Ben yang masih terpuruk di posisinya. Berjongkok
dengan kepala di antara kedua lutut. Dibersihkan lantai di dekat Ben, sebelum
duduk di sana.
“Mau sampai
kapan lu kayak gini? Temen-temen udah pada nanyain elu tuh.”
“Gue kehilangan
kemampuan gue Jod, Gue kehilangan kekuatan gue...” ucap Ben parau.
