Tampilkan postingan dengan label Filosofi Kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filosofi Kopi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juli 2016

Filosofi Kopi : Ben dan Jody


Ben & Jody

“Ben? Ben?”
Jody mengetuk pintu kamar untuk ketiga kalinya. Diulanginya sekali lagi. Tetap tidak terdengar jawaban yang ditunggunya. Jody pun memutuskan untuk membuka pintu. Dilakukannya secara perlahan. Kagetlah dia saat melihat Ben meringkuk di pojok kamar, dalam kegelapan. Kondisi Ben terlihat berantakan, benar-benar berantakan. Bahkan kalau dilihat-lihat, gelandangan pun akan kalah bila dibandingkan kondisi Ben saat ini. Dua hari sudah Ben tidak keluar kamar. Bau apek mulai mengganggu penciuman Jody. Ditambah bau badan dan pakaian Ben, yang sudah sekian lama tidak terkena air dan sabun. Udara memang tidak masuk ke dalam kamar. Demikian pula sinar matahari. Terhalang oleh daun jendela dan kain korden yang tertutup rapat.
Jody menyapu pandangan matanya ke sekeliling. Rupanya Ben telah menyulap kamar itu menjadi sebuah “laboratorium” mini. Bubuk dan biji kopi bertebaran di lantai. Demikian pula di atas meja. Botol dan gelas kaca ikut berserakan di sana. Mesin pembuat kopi turut pula “menghiasi” meja panjang tersebut. Mesin itu terlihat lelah, sama seperti layaknya Ben. Jody harus mencegah si pemilik kamar untuk melihat kekacauan ini. Dia menyewa kamar itu dari salah satu teman, atas permintaan Ben yang kini disesalinya.
“Gila Ben, berantakan banget nih kamar.”
Ketika Jody hendak membuka korden, Ben berteriak mencegahnya. “Jangan dibuka!”
Jody membatalkan niatnya tersebut. Didekatinya Ben yang masih terpuruk di posisinya. Berjongkok dengan kepala di antara kedua lutut. Dibersihkan lantai di dekat Ben, sebelum duduk di sana.
“Mau sampai kapan lu kayak gini? Temen-temen udah pada nanyain elu tuh.”
“Gue kehilangan kemampuan gue Jod, Gue kehilangan kekuatan gue...” ucap Ben parau.