Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Oktober 2017

Literasi Digital, Mari Mulai Dari Diri Sendiri


Di dunia digital yang berkembang pesat saat ini, sebagian besar orang pasti punya ponsel pintar (smartphone). Bahkan mungkin saja, sekarang anda sedang membaca tulisan ini melalui ponsel. Teknologi ponsel pintar ini diiringi pula dengan perkembangan media sosial. Ada beberapa media sosial yang kini sedang digandrungi oleh generasi milenia. Sebut saja, Facebook, Twitter, Line, Whatsapp, Instagram, sampai Tumblr dan Blog.
Dunia kini terasa semakin ‘menyempit’. Melalui media sosial, manusia bisa berkomunikasi tanpa mengenal lagi jarak dan waktu. Berbagai konten sudah bisa terkirim cukup dalam hitungan detik. Dari mulai tulisan, berita, foto, video, serta konten lain yang bersifat informasi atau advertensi. Melalui perantara media sosial, semua orang dapat saling bertukar konten dengan sangat mudah. Tinggal klik, maka anda bisa mengakses konten-konten tersebut sesuai selera.

Sabtu, 22 April 2017

Antara Cekal, Cegah, dan Tangkal. Bedanya apa?


Saya menulis ini sekedar iseng. Berawal dari sebuah berita di televisi. Saat itu dibahas tentang Pimpinan DPR yang bersurat kepada Presiden, berupa nota keberatan. Isinya terkait pencegahan Setya Novanto ke luar negeri oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pimpinan DPR meminta pencegahan tersebut dibatalkan, karena dinilai mengganggu tugas kenegaraan seorang Ketua DPR. Dari berita ini mengelitik untuk mencari tahu tentang ‘pencegahan’ yang dimaksud. Yang sering saya dengar adalah tindakan pencekalan atau cekal, bukan pencegahan.
Setelah riset kecil-kecilan (Halah riset, sok ilmiah banget, bilang aja googling), cekal itu berasal dari singkatan cegah-tangkal, atau lengkapnya pencegahan dan penangkalan. Ada dua payung hukum untuk tindakan pencegahan dan penangkalan ini, yaitu UU No. 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian dan UU No. 30 Tahun 2002 tentang KPK. Dalam hal ini UU KPK bersifat lex specialis, atau bersifat khusus untuk kasus-kasus korupsi.
Bagaimana bunyi pasal yang mengatur mengenai cekal dalam kedua undang-undang tersebut?

Pertama, ketentuan dalam UU Keimigrasian. Diantaranya mengatur tentang:
Definisi Pencegahan adalah larangan sementara terhadap orang untuk keluar Wilayah Indonesia berdasarkan alasan Keimigrasian atau alasan lain yang ditentukan oleh undang-undang. (Pasal 1 angka 28).
Definisi Penangkalan adalah larangan terhadap Orang Asing untuk masuk Wilayah Indonesia berdasarkan alasan Keimigrasian. (Pasal 1 angka 29).
Yang berhak melakukan Pencegahan dan Penangkalan adalah Menteri yang diberi kewenangan di bidang keimigrasian, yang dalam hal ini adalah Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Republik Indonesia. Tindakan Penangkalan dapat pula dilakukan oleh Pejabat Imigrasi yang ditunjuk.

Jumat, 17 Februari 2017

Pendamping Hidup


Mumpung kita lagi ada di bulan (yang katanya) penuh cinta, saya akan menulis tentang cinta. Tentang pendamping hidup (jodoh) sih tepatnya. Sebuah tulisan singkat. Ide tulisan ini muncul dari hasil menonton tiga buah film, yaitu A Beautiful Mind, A Beautiful Life dan The Theory of Everything. Ketiga film ini menampilkan tiga orang sosok wanita yang luar biasa. Wanita luar biasa yang mendampingi si tokoh utama pria, dengan segala kekurangannya.
Film A Beautiful Mind dibintangi oleh Russell Crowe dan Jennifer Connelly. Mengisahkan tentang seorang matematikawan John Nash, peraih nobel dalam bidang ilmu ekonomi pada tahun 1994. Dia adalah seorang matematikawan jenius tetapi tak simpatik dan agak apatis. Dimulai ketika dia bersekolah di Princeton dengan mendapat beasiswa Carniege. John Nash merupakan mahasiswa yang unik, tidak menyukai perkuliahan dan suka membolos. Menurutnya berkuliah hanya membuang waktu, mengekang kreativitas seseorang, dan membuat otak menjadi tumpul. Nash lebih suka berada di luar kelas demi mendapatkan ide orisinil untuk gelar doktornya. Di lain sisi Nash mengidap penyakit gangguan jiwa skizofrenia, yaitu suatu gangguan jiwa yang penderitanya tidak bisa membedakan antara halusinasi dan kenyataan. Penyakit ini terus saja membayangi kehidupan Nash, sampai dia bertemu dengan Alicia Larde, mahasiswinya, dan kemudian menikah. Bukannya sembuh, penyakit Nash ini justru semakin memburuk. Disinilah peran Alicia Larde, sebagai pendamping hidup Nash diuji. Benar-benar diuji.

Sabtu, 19 Desember 2015

Manchester United: Tulisan Iseng Tengah Malam


“Sial..!” umpat Joni.
Ingin rasanya dia lempar sesuatu. Sayang tidak ada apa pun yang bisa dilempar.
“Kalah lagi, kalah lagi…” Toni menambahkan.
Pertandingan Minggu dini hari itu telah berakhir. Ditayangkan langsung dari Inggris. Dilayar televisi terpampang skor akhir pertandingan. Disana tertulis: Bournemouth 2-1 Manchester United.
“Sial, nanti di kantor pasti jadi bahan bully-an lagi nih. Sial.” Joni masih saja mengumpat.
Kamis dini hari lalu, umpatan yang sama juga terucap. Saat itu Manchester United tumbang di kandang Wolfsburg. Bahkan dengan skor yang lebih mengenaskan. Skor 2-3 menjadi hasil akhir saat itu. Umpatan terucap karena dengan kekalahan itu, Manchester United pun resmi bertengger diposisi ketiga grup. Itu berarti gagal masuk fase knock out, 16 besar Liga Champion. Tragedi, sungguh sebuah tragedi.
Fans yang berhati besar, akan berkata “Nggak apa-apa, toh masih lolos Liga Eropa”. Ini jelas kata-kata menghibur diri. Agar hati yang sakit, tidak bertambah sakit. Tidak demikian untuk Joni dan Toni. Bagi mereka, Manchester United adalah tim besar dunia. Bukan ekosistem mereka berada di Liga Eropa. Itu kan untuk kasta kelas dua. Fans fanatik garis keras, tegas berkata.
Tapi yang terjadi sudah terjadi. Nasi sudah basi, tidak mungkin kembali jadi padi.
Belum sembuh sakit sebelumnya, diberikan lagi sakit berikutnya. Sakit kali ini diberikan oleh klub bernama ‘Bournemouth’. Ini sih bukan lagi “Sakitnya tuh disini”, tapi sudah “Sakitnya tuh di hati, jantung, limpa, bahkan nyebar sampai usus dua belas jari”. Sakit pokoknya bro, sakit. Bayangkan saja, Bournemouth adalah klub di peringkat 15 klasemen. Untuk level Liga Inggris, tim berperingkat 15 kebawah tergolong tim papan bawah (mohon maaf untuk fans Chelsea-red). Itu berarti Manchester United tidak hanya kalah, tapi kalah dari tim papan bawah. Kurang memalukan apa lagi coba?

Minggu, 27 Oktober 2013

Sekretaris

Apa bedanya sekretaris yang baik (a good secretary) dan sekretaris yang terbaik (the best secretary)? Ini jokes yang amat sering saya dengar di kalangan teman-teman top management.
Konon, good secretary adalah sekretaris yang tiap pagi (di kantor) tidak pernah lupa menyapa bossnya dengan salam “good morning sir, good morning boss (Selamat pagi pak, Selamat pagi boss)”. Sedangkan the best secretary adalah sekretaris yang selalu membangunkan boss-nya (yang ketiduran di ranjang hotel) dengan sapaan “It has already morning, sir (sudah pagi pak, ayo cepat bangun…!).
*****
Seorang sekretaris zaman sekarang makin jauh dari citra lama, yang sekedar penyedap atau barang hiasan di kantor, walaupun masih ada satu dua yang seperti itu. zaman sekarang, sekretaris tidak hanya sekedar wanita cantik berbulu mata lentik. Dunia sekretaris kian mendapat tempat sebagai profesi tersendiri yang unik, di samping profesi manajer dan profesi lainnya. Sekretaris bukan lagi profesi afkiran atau sekedar tukang ketik surat. Sebuah organisasi yang ingin berkembang manju membutuhkan sekretaris, begitu juga dunia usaha.
Perkembangan dunia usaha yang kian pesat membutuhkan sekretaris yang cakap. Seorang sekretaris dikatakan cakap bila memiliki semua pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk melakukan tugasnya secara efektif dan efisien. Profesi sekretaris membutuhkan gabungan rasa percaya diri, kemampuan tinggi, dan pendekatan global. Bukan sekedar orientasi pada tugas. Sebab seharusnya sekretaris bekerja demi keunggulan profesional. Sekretaris yang hanya berkonsentrasi pada tugas dan tidak pernah mempunyai pandangan lebih luas adalah pekerja dengan tingkatan karyawan biasa.
Ia mesti memiliki pengetahuan menyeluruh tentang organisasi, tujuan, produk, pelayanannya, karyawan, pelanggan, eksklusif, termasuk sejarahnya, dan kemungkinan-kemungkinan yang akan dicapai pada masa mendatang. Dengan demikian sekretaris akan termotivasi untuk bekerja profesional dan membuat kantor menjadi lebih efektif.

Mencetak Yang Bisa, Bukan Yang Tahu

Alkisah, ada dua profesor yang sedang berdebat panjang lebar tentang ilmu mereka. Satu sama lain berusaha menggungguli dan menjadi pemenang dalam debat tersebut. Salah satu profesor mengatakan, “Saya sudah tahu banyak hal dalam hidup ini, sudah membaca sekian banyak teori dan buku. Jadi, saya tahu semuanya”. Profesor yang satu lagi tidak mau kalah dan mengatakan hal yang sama.
Salah satu profesor tersebut tinggal di seberang sungai. Seperti biasa, ketika hendak pulang, profesor itu selalu meminta bantuan si tukang perahu. Ketika hendak naik perahu, profesor tersebut dengan sombong, “Coba tanya apa saja, pasti akan saya jawab karena saya tahu semianya…!”.
Namanya juga tukang perahu bodoh yang tidak berpendidikan dan tidak punya pengetahuan, dia asal saja bertanya, “Profesor tahu tentang ilmu berenang?”. “Wow, tahu dong!”, jawab sang profesor dengan sombong dan menerangkan banyak hal tentang ilmu berenang. Tampaknya, semua teori berenang yang dia kuasai sudah disampaikan kepada si tukang perahu.
Nah, ketika sang profesor sedang menjelaskan semua, tiba-tiba angin dan badai datang yang mengakibatkan perahu yang ditumpangi mereka terbalik ke sungai. Ternyata, si profesor itu kelelep dan megap-megap di sungai serta minta tolong kepada si tukang perahu yang dianggap bodoh tersebut. Akhirnya, si tukang perahu menolong sang profesor yang tidak bisa berenang padahal sebelumnya menerangkan ilmu berenang secara detail.
*******
Ilustrasi cerita tersebut menggambarkan dengan jelas betapa perbedaan antara TAHU dan BISA sangat jelas. Nah, pendidikan Indonesia, disadari atau tidak, telah mengajarkan kepada kita ilmu tahu, bukan ilmu bisa. Akibatnya, ketika lulus, mereka gagap dan tidak siap menghadapi dunia kerja yang lebih banyak membutuhkan ilmu bisa. Kenyataan itu semakin nyata terlihat ketika kita melihat krisis global saat ini.
Coba kita bayangkan, tiap tahun ada sekitar 400 ribu sarjana yang lulus dari perguruan tinggi. Di antara jumlah itu, yang terserap ke lapangan kerja maksimal hanya 10-20 persennya. Sisanya sudah dipastikan menganggur. Belum lagi potensi PHK karena banyaknya perusahaan tutup lantaran sepinya pasar dan daya beli. Itu berarti para lulusan perguruan tinggi harus bersaing dengan mereka yang sudah berpengalaman kerja jika ingin mencari pekerjaan. Jelas, persaingan makin berat.