Minggu, 29 Oktober 2017

UWRF 2017: Kembali Ke Jati Diri Sejati


Press Call
Ajang Ubud Writers and Readers Festival (UWRF), diselenggarakan kembali pada tanggal 25 - 29 Oktober 2017 ini. Memasuki periodenya yang ke-14, ajang tahunan ini masih mengambil tempat di Capuhan, Ubud, Gianyar. Di hari pertama, panitia penyelenggara mengundang media lokal, nasional, dan internasional, untuk hadir dalam kegiatan press call. Kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan kegiatan UWRF 2017 secara lebih luas. Pada kesempatan ini, Tim Good News For Indonesia (GNFI) pun turut hadir, di Warwick Ibah Luxury Villas & Spa Campuhan, sebagai tempat pelaksanaan acara.
Hadir pada acara press call ini, antara lain: Pierre Coffin (sutradara sekaligus pengisi suara dari film animasi Despicable Me dan Minions), Jung Chang (penulis buku bestseller Wild Swans), Joko Pinurbo (penyair ternama Indonesia), dan Sakdiyah Ma’ruf (standup comedian wanita muslim pertama di Indonesia). Turut pula hadir pada acara ini Ketut Suardana (Pendiri Yayasan Mudra Swari Saraswati), serta Janet Deneefe (Pendiri sekaligus Direktur dari UWRF).

Minggu, 22 Oktober 2017

Literasi Digital, Mari Mulai Dari Diri Sendiri


Di dunia digital yang berkembang pesat saat ini, sebagian besar orang pasti punya ponsel pintar (smartphone). Bahkan mungkin saja, sekarang anda sedang membaca tulisan ini melalui ponsel. Teknologi ponsel pintar ini diiringi pula dengan perkembangan media sosial. Ada beberapa media sosial yang kini sedang digandrungi oleh generasi milenia. Sebut saja, Facebook, Twitter, Line, Whatsapp, Instagram, sampai Tumblr dan Blog.
Dunia kini terasa semakin ‘menyempit’. Melalui media sosial, manusia bisa berkomunikasi tanpa mengenal lagi jarak dan waktu. Berbagai konten sudah bisa terkirim cukup dalam hitungan detik. Dari mulai tulisan, berita, foto, video, serta konten lain yang bersifat informasi atau advertensi. Melalui perantara media sosial, semua orang dapat saling bertukar konten dengan sangat mudah. Tinggal klik, maka anda bisa mengakses konten-konten tersebut sesuai selera.

Jumat, 20 Oktober 2017

Pengabdi Setan: Film Horor Bertema Cinta


Pengabdi Setan
Pengabdi Setan, film horor bertema cinta. Iya, itulah yang saya rasakan usai menonton. Untuk diketahui, film ini adalah film horor pertama yang saya tonton di bioskop. Biasanya saya selalu berpikir, buat apa sih mengeluarkan duit buat nakut-nakutin diri sendiri. Pikiran saya berubah khusus untuk Pengabdi Setan ini. Review bagus yang didapat film ini menggugah keingin-tahuan saya. Selain karena saya cukup berjodoh dengan film-film Joko Anwar, khususnya yang bertema triller. Sebut saja film Kala, Pintu Terlarang, dan Modus Anomali. Sebuah kebetulan semuanya pernah saya tonton, meski bukan di bioskop.
Kita tahu kalau film ini adalah sebuah remake dari film yang berjudul sama, yang sempat hits di tahun 1980-an. Saya pun melakukan perbandingan antara film versi baru, dengan versi ‘jadul’-nya. Dan hasilnya, film keluaran tahun 2017 ini hampir 99,9% lebih baik, dari segala aspek. Selain dari sisi sinematografi, penulisan skenarionya pun jauh lebih rapi. Begitu pun dengan alur ceritanya. Iya, kedua film ini memang memiliki ‘benang merah’ yang mirip, namun dengan alur yang tidak sama. Keputusan untuk tidak memakai teknologi CGI (computer-generated imagery), juga patut diapresiasi. Keseraman dalam film ini jadi terkesan natural. Anjiiir, keseraman kok natural...?

Rabu, 11 Oktober 2017

Pasar Beringkit


Di Bali ada sebuah pasar tradisional yang cukup unik. Namanya Pasar Beringkit. Berlokasi di Desa Beringkit, bersebelahan dengan Polres Mengwi-Badung. Kalau datang dari Bedugul, balik ke Denpasar, pasti akan melewati pasar ini. Kenapa unik? Karena hanya buka di hari Rabu dan Minggu saja. Berdiri tahun 1970-an, pasar ini dulu dikenal dengan pasar hewan, terutama sapi. Itu kenapa Pasar Beringkit juga dikenal dengan sebutan Peken Sampi (Pasar Sapi). Sekarang sih masih menjadi pusat penjualan hewan di Bali, dengan penambahan areal untuk pasar umum dan pasar tanaman hias. Kedua pasar tambahan ini pun ikut buka dua kali seminggu saja. Tersedia pula areal aneka kuliner tradisional Bali. Pengunjung yang datang berasal dari seluruh daerah di Bali. Kadang ada pula wisatawan mancanegara. Harga yang ditawarkan bisa jauh lebih murah loh dibanding pasar lain. Tergantung pintar-pintar kita menawar. Tidak kena tiket masuk, hanya biaya parkir sebesar dua ribu rupiah.
Kebetulan ada di Bali? Ada waktu senggang di hari Rabu dan Minggu? Silakan coba mampir ke Pasar Beringkit, sebagai destinasi liburan alternatif. Masa mau belanja online melulu? Apa nggak kangen sama sensasi tawar-menawar?

Jumat, 15 September 2017

Sebuah Cerita Tentang Kita



Kita tidak akan pernah tahu kapan dan dimana akan menemukan cinta. Kalau saja hari itu aku tidak menuruti paksaan temanku, mungkin aku tidak akan bertemu denganmu. Menghadiri ulang tahun teman dari temanku, yang juga merupakan temanmu. Mungkin saat itu akan terlalu dini mengatakan kalau itu adalah cinta. Mungkin akan lebih tepat jika disebut dengan terpesona. Kuperhatikan dirimu di tengah keramaian. Mungkin kamu tidak menyadarinya, karena saat itu aku belum ada keberanian untuk menyapa. Kamu terlihat berbeda diantara wanita-wanita lainnya. Sebuah pesona tanpa nama.
Percaya atau tidak, delapan hari setelah hari itu, aku melihatmu lagi. Aku pun tidak percaya. Sedikit pun aku tidak menyangka hal itu akan bisa terjadi. Di sana kamu duduk, ditemani segelas green tea dan sebuah novel. Kamu terlihat serius sekali membaca. Dari tempatku duduk, aku nikmati lagi pesonamu. Kamu mungkin tetap tidak menyadarinya, karena aku masih belum berani menyapa. Tahu tidak, aku sampai memesan dua gelas kopi dan dua rainbow cake, hanya agar bisa ada di sana lebih lama.
“Daripada diliatin aja, mending coba disapa,” begitu goda seorang pelayan wanita, saat aku memesan gelas kopi ketiga. Aku tertawa, dia juga. Bersyukur dia tidak menyangka aku ini pria mesum, yang sedang mencari mangsa.

Minggu, 30 Juli 2017

Dunkirk, Bukan Film Perang Biasa


Dari baca judulnya, sudah tahu dong saya akan membahas tentang apa? Iya, tentang film. Dan anda pasti sudah tahu juga judulnya apa. Bulan Juli ini banyak sekali film-film bagus di bioskop. Kebetulan saya dapat satu kupon nonton gratis, dari bioskop di seputaran Kuta. Sebut nggak ya namanya? Sebut saja ah, dikasih nonton tanpa keluar duit soalnya hahaha… Itu loh Cinema XII Beachwalk. Nontonnya tetep sendirian? Iya jelas teteplah.

Dunkirk

Punya satu tiket doang, artinya saya harus memilih, diantara film-film keren di bulan Juli. Saya sempat bingung mau nonton yang mana. Akhirnya pilihan jatuh pada film Dunkirk. Kenapa sih Dunkirk? Karena film ini saya nilai unik. Ada unsur sejarah di dalamnya. Jadi selain terhibur, bisa nambah ilmu. Sutradara film ini juga jadi alasan saya tertarik. Christopher Nolan. Mungkin saya kadung jatuh cinta sama trilogy Batman.

Sabtu, 01 Juli 2017

Rumah Kecil di Gang Kancil


Sebuah mobil berhenti di depan sebuah rumah. Rumah kecil di gang Kancil. Di kursi belakang, duduk seorang pria paruh baya. Namanya Kusumo. Orang memanggil dia, Pak Kus. Seorang pengusaha properti. Dia turunkan sedikit kaca mobil, untuk memperjelas pandangannya. Rumah itu masih sama seperti dulu, dia membatin.
Dulu, dua puluh tahun yang lalu, Kusumo membeli rumah itu. Uang hasil bisnis kecil-kecilan, dia kumpulkan sedikit demi sedikit. Akhirnya cita-cita dirinya memiliki rumah tercapai. Sebuah rumah kecil, di gang Kancil.
Di rumah itu, dia membangun rumah tangga. Kusumo muda menikah dengan teman sekampus. Sebuah pertemuan di ajang reuni, merajut garis jodoh mereka. Satu tahun menikah, lahir si buah hati. Seorang anak laki-laki. Kondisi ekonomi yang kian membaik, mereka memutuskan untuk menambah momongan. Kali ini lahir anak perempuan. Sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Berawal iseng membantu teman menjualkan rumah, karier Kusumo di bidang properti dimulai. Tidak disangka-sangka, keuntungan yang diperoleh terus berlipat. Pergaulan Kusumo pun mulai merambah ke tingkat atas. Pun demikian dengan keluarganya. Rumah kecil di gang Kancil, tidak lagi bisa mengikuti gaya hidup baru mereka.