Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Januari 2020

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini: Sebuah Review


NKCTHI
Tahun 2020 ini dibuka dengan sangat manis oleh film ‘Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini’, atau mari kita singkat saja dengan NKCTHI. Capek ngetiknya, Sob! Sebuah film yang diangkat dari novel berjudul sama, karya Marchella FP. Pertama kali saya mendengar nama penulis ini adalah dari akun Youtube milik Noah. Bagaimana Ariel menjelaskan kalau Marchella ini ikut memiliki peran dalam menulis lirik lagu ‘Kupeluk Hatimu’. Kebetulan saya memang suka sekali dengan rangkaian kata di dalam lagu ini, bahkan sejak pertama kali mendengarnya. Tahu kalau Marcella juga ada dibalik layar NKCTHI, langsung saja saya masukkan film ini ke daftar wajib tonton.
Film NKCTHI ini disutradarai Angga Dwimas Sasongko. Beberapa filmnya pernah saya tonton, antara lain Filosofi Kopi dan Love For Sale. Keduanya tidak membuat saya kecewa. Begitu pula dengan NKCTHI. Ceritanya menarik, sehingga tidak merasa saya telah duduk selama 121 menit.
Berkisah tentang satu keluarga. Terdiri dari ayah, ibu, dan tiga anak mereka. Dimana tiap tokoh utama menghadapi masalah mereka masing-masing. Sesuai dengan tagline dari film ini, ‘Setiap Keluarga Punya Rahasia’. Setiap masalah dituturkan menggunakan alur maju- mundur, sehingga bermuara pada satu persoalan yang hampir menghancurkan keutuhan keluarga ini. Kalau saya tidak salah, film ini punya tiga garis waktu. Iya, tiga garis waktu. Banyak ya. Konsekuensinya, ada beberapa aktor dan aktris yang memerankan masing-masing tokoh utama, sesuai garis waktu yang berbeda-beda. Pembagian tokohnya seperti ini:

Sabtu, 14 September 2019

Gundala – Kiprah Patriot Perdana


Gundala
Siang ini akhirnya saya kembali ke bioskop, setelah sekian lama vakum karena faktor anggaran yang tipis. Nonton jadi kebutuhan nomor sekian yang musti dipenuhi. Namun khusus untuk film ini, saya sudah menunggunya sejak dari lama. Lebih karena ingin memuaskan rasa penasaran. Bagaimana sih kiprah dari patriot perdana Indonesia, GUNDALA. Tokoh ‘superhero’ pelopor, yang mencoba untuk menyeruak di antara gendre perfilman mainstream, cinta-cintaan dan hantu-hantuan.
Secara garis besar, alur film Gundala dimulai dari seorang bocah bernama Sancaka. Ayahnya seorang buruh pabrik, sedang ibunya hanya mengurus rumah tangga. Mereka hidup sangat pas-pasan. Ditambah, sang ayah lagi berkonflik dengan bos pabrik tempatnya bekerja. Dia menjadi pemimpin gerakan demo buruh. Akibat sebuah konspirasi antar pekerja, akhirnya sang ayah meninggal dunia. Garis kehidupan Sancaka kian memburuk, ketika sang ibu menghilang sewaktu pergi ke kota untuk mencari kerja. Sancaka kecil pun mulai hidup menggelandang. Terjebak dalam kerasnya kehidupan jalanan.
Sampai suatu hari, Sancaka bertemu dengan Awang, yang menolongnya ketika bertikai dengan sebuah geng anak jalanan. Agar tidak terus ditindas, Awang mengajarkan Sancaka cara membela diri. Sayangnya, pertemuan itu berlangsung singkat. Mereka berpisah saat hendak menaiki kereta api menuju ke Tenggara.

Minggu, 19 Mei 2019

Rahasia Salinem – Sebenarnya Setiap Manusia Punya Rahasia


Rahasia Salinem
Beberapa bulan tersimpan dengan rapi, akhirnya novel Rahasia Salinem ada di tangan juga untuk selesai dibaca sampai bab terakhir. Saya orangnya memang seperti itu. Mumpung ada rejeki dibeli saja dulu. Soalnya saya bukan manusia yang punya penghasilan rutin setiap bulan, seperti manusia ‘normal’ lainnya. Bacanya kan bisa nanti saja kalau punya waktu kosong. Dan tiga hari lalu, waktu ‘kosong’ itu tiba. Kerjaan sudah selesai. Mau jalan-jalan belum ada anggaran. Mau nonton tidak ada yang menarik perhatian. Akhirnya bongkar-bongkar tumpulan novel. Disanalah Rahasia Salinem menampakkan dirinya. Setelah ‘menanti’ cukup lama.
Sebenarnya novel ini sudah sempat saya baca empat bab, secara online, lewat situs storial.co. Dan saya sangat tertarik dengan gaya penulisan dari penulisnya. Tapi begitulah, saya tergolong tipe old fashion kalau soal membaca buku. Harus dipegang di tangan, terus dibacanya sambil goleran santai. Kadang duduk, kadang tiduran, kadang kayang. Banyak gaya deh pokoknya hehehe... Kalau baca dilayar laptop atau ponsel, mata saya jadi cepat lelah. Tidak kuat dengan radiasi cahayanya. Maka, saya tunggu saja edisi cetak Rahasia Salinem mulai dipasarkan.
Edisi cetak Rahasia Salinem keluar dua tipe, hard cover dan soft cover. Punya rejeki lebih, saya beli saja yang hard cover. Kenapa? Karena saya tahu kalau menulis novel (bagus) itu sangat susah – berkali-kali mencoba, tidak pernah juga berhasil. Dan saya juga tahu kualitas cerita novel ini bagus, tidak akan mengecewakan.

Kamis, 09 Mei 2019

Tukang Jagal Itu Bernama Sensor Film


Ave Maryam
Bulan April 2019 terdengar kabar akan tayang tiga film Indonesia, yang telah wara-wiri di ajang festival film internasional. Ketiga film ini bahkan menggaet penghargaan di ajang-ajang tersebut. Penasaran dong saya dibuatnya. Film-film tersebut antara lain: Ave Maryam, Kucumbu Tubuh Indahku, dan 27 Steps of May. Sempat saya dengar juga kalau ketiga film ini berjuang keras agar bisa tayang di bioskop. Kenapa? Karena ketiganya mengangkat tema yang tergolong ‘sensitif’ untuk kriteria perfilman Indonesia. Film-film ini ‘terpaksa’ harus melewati hadangan Lembaga Sensor Film (LSF). Akibatnya, ketiganya pun harus rela kena ‘mutilasi’ dari sang ‘tukang jagal’. Siapa korbannya? Tentu saja saya, dan semua penonton bioskop lainnya. Sudah keluar uang yang tidak sedikit, tetapi tidak mendapat tayangan film yang penuh.
Tidak usah kita bahas tentang LSF ini. Mereka hanya melaksanakan tugas, sebagaimana diatur oleh peraturan perundang-undangan. Pembuat undang-undang saja yang ‘sedikit’ lebay mengatur akhlak pribadi warga negara.
Kita mulai saja dari film pertama, AVE MARYAM. Urutan ini saya susun berdasarkan tanggal penayangan. Sesuai judulnya, film ini berkisah mengenai kehidupan seorang biarawati bernama Maryam (Maudy Koesnaedi). Sebuah film yang indah, itu kesan yang saya dapat saat menonton. Tone warna, setting tempat dan waktu, ditampilan secara teramat elegan. Tidak hanya suasana gereja sebagai latar utama, tetapi latar-latar pendukungnya pun tidak kalah indah.

Minggu, 24 Maret 2019

Partikel – Memahami Hayati Melalui Fiksi


Novel yang akan kita bahas kali ini adalah Partikel. Seri keempat dari semesta Supernova, karya Dee Lestari. Dibutuhkan waktu delapan tahun, bagi Partikel untuk hadir menemui pembacanya. Sebuah jangka waktu yang amat panjang untuk memproduksi sebuah karya. Menurut penulisnya, dalam durasi tersebut, Partikel digodok, digarap, dimatangkan dan ditransformasi menjadi kata-kata. Tidak sia-sia menanti selama sewindu, karena Partikel menjelma sebagai seri Supernova yang paling meninggalkan kesan. Paling tidak menurut saya. Meski dibaca berulang-ulang, kesan itu tetap tidak juga hilang.
Partikel
Partikel diterbitkan oleh Penerbit Bentang (PT Bentang Pustaka). Pada Agustus 2017, novel ini sudah dicetak ulang sebanyak enam kali. Memiliki total halaman, kurang lebih 490 lembar. Sama seperti seri lainnya, novel ini juga memiliki tampilan simbolnya sendiri. Simbol berwarna hijau, berupa lingkaran dengan tanda palang di tengahnya. Kenapa hijau? Mungkin, karena novel ini mengajak untuk memahami dunia hayati melalui fiksi. Iya, Partikel mengajak kita untuk sejenak menoleh ke sekitar. Ke Bumi di mana kita bertumbuh, beserta dengan segala makhluk yang ada di dalamnya. Termasuk manusia, tentunya.

Senin, 18 Maret 2019

Captain Marvel – Jembatan Menuju Pertarungan Pamungkas


Captain Marvel
Bulan Maret ini, Marvel kembali merilis film superhero. Captain Marvel, begitu judulnya. Film solo pertama yang tokoh utamanya seorang wanita. Carol Danvers, seorang pilot pesawat tempur yang secara tak sengaja mendapatkan kekuatan super. Untuk aksi dan kualitas olah gambar, tidak perlu lagi diragukan. Kolaborasi antara Marvel dan Disney memang belum ada tandingannya, khusus untuk film superhero. Cuma sayangnya Captain Marvel tidak menginggalkan kesan apa-apa ketika selesai ditonton. Bagi saya pribadi sebagai penonton awam, film ini hanya sebatas jembatan menuju pertarungan pamungkas - Avengers: End Game. Tidak lebih, tidak kurang. Mereka butuh Captain Marvel untuk melawan Thanos. Nggak mungkin dong sang Kapten muncul begitu saja, iya kan? Maka dari itu film ini dibuat.
Begitu film dimulai, langsung menceritakan Vers, a.k.a Carol Danvers (Brie Larson) sudah jadi anggota dari pasukan elit bangsa Kree. Masih on trainning sih, cuma dinyatakan siap untuk tugas perdananya. Tugas itu adalah untuk menghadapi serangan bangsa Skrull, di daerah perbatasan. Apesnya, baru juga tugas pertama eh Vers malah tertangkap. Skrull kemudian ‘membajak’ isi kepala Vers, guna mencari sebuah informasi rahasia. Di sinilah, muncul kilasan-kilasan ingatan masa lalu. Penonton diajak menyelami sekelumit kisah hidup seorang Carol Danvers.

Jumat, 01 Februari 2019

Problematika Bidadari Angkasa 2


Kisah mbak Jingga ternyata berlanjut! Itu yang terlintas dipikiran, saat saya melihat Novel Diary Pramugari 2: Pilot, Pramugari & Penumpang. Novel yang tidak sengaja tertangkap lirikan mata, di rak sebuah toko buku. Memang sejak dulu tertarik dengan kisah hidup mbak Jingga, novel ini langsung saya ambil tanpa pikir panjang. Bayar di kasir, langsung di bawa pulang.
Diary Pramugari 2
Oya, judul tulisan ini saya samakan dengan tulisan pertama. Cuma ditambahkan angka 2 (dua) di belakangnya, biar terkesan seperti sinetron atau FTV gitu hehehe... Buat yang belum tahu tulisan saya tentang kisah hidup awal mbak Jingga, bisa dibaca di sini.
Sebelum kita bahas lanjutan kisah hidup mbak Jingga, mari bahas dulu penampilan fisik dari Novel Diary Pramugari 2. Tidak banyak yang berbeda dari tampilan depan. Masih menampilkan betis wanita yang memakai high heels warna merah. Ukuran novel kedua ini pun sangat identik, dengan novel pertama. Memakai dimensi 18,5 x 13 cm, sehingga nyaman untuk dipegang atau ditaruh di tas. Hanya kini tulisan judul memakai ‘sensasi’ huruf timbul, yang bisa terasa apabila diraba dengan jari. Perbedaan lainnya, tentu pada jumlah halaman yang lebih tebal. Novel kedua ini memiliki total 464 halaman. Edisi pertama yang saya pegang (Desember 2017), penerbitnya masih tetap Pohon Cahaya.

Jumat, 04 Januari 2019

The Woman In Cabin 10


Satu lagi novel yang selesai saya baca. Judulnya sesuai dengan judul tulisan ini. The Woman In Cabin 10. Sebuah novel misteri, action, detektif, atau triller, entah yang mana yang sesuai untuk menggolongkan gendre dari novel ini. Novel ini saya pilih, ya karena memang lagi jenuh dengan tema cinta-cintaan. Butuh sesuatu yang seru dan mengajak untuk sedikit berpikir. Membuat ikut menebak-nebak alurnya akan dibawa kemana. Novel ini sepertinya sesuai dengan kriteria yang saya inginkan. Ambil, lalu bawa ke kasir.
The Woman In Cabin 10
Nuansa mencekam sudah terlihat dari sampul Novel The Woman In Cabin 10 ini. Hitam legam, ditambah kapal pesiar yang berlayar di atas lautan berwarna merah, semerah darah. Cukup jelas menggambarkan setting dan gambaran kasar terhadap alur cerita. Memiliki 469 halaman, itu pun belum termasuk halaman tambahan, membuat novel ini cukup tebal. Novel yang saya beli adalah cetakan kedua (Mei 2018). Sebuah novel terjemahan karya Ruth Ware, dimana penterjemahnya adalah Reni Indardini, dan penyunting adalah Yuli Pritania. Diterbitkan oleh Penerbit Noura Books (PT. Mizan Publika), dan disitribusikan oleh Mizan Media Utama (MMU).
Apa lagi ya? Langsung ke alur aja deh ya.

Senin, 24 Desember 2018

Raja Laut, Manusia Laba-Laba, dan Lebah Besi


Bulan Desember ini saya lagi menggila. Terlalu banyak film bagus di bioskop untuk dilewatkan. Ada Aquaman, Spiderman: Into The Spider-Verse, dan Bumblebee. Susah mau pilih yang mana, akhirnya saya tonton saja semuanya. Meski itu berarti harus ‘muka tebal’, karena penonton film-film ini kebanyakan adalah anak-anak kecil. Anggap saja masa kecil kurang bahagia. Mumpung dana anggaran sampai akhir tahun masih banyak. Terutama, pos anggaran ‘pacaran’ yang sama sekali tidak terjamah. Iya, sampai akhir tahun 2018 belum juga laku ‘jual diri’ nih hehehe... Jadi untuk mengirit tenaga, disatukan saja ketiga ulasan film tadi ke dalam satu tulisan.
Aquaman
Kita mulai dari film Raja Laut, AQUAMAN. Dari masih sebatas gosip belaka, saya memang sudah niat untuk menonton film ini. Ditambah tahu kalau sutradaranya adalah James Wan, si ahli horor. Sudah pasti Aquaman tidak akan jadi film biasa-biasa saja. Dan benar saja. Film Aquaman jadi jauh dari kesan biasa-biasa saja. Malahan luar biasa. Sangat jauh di atas ekspektasi. Filmnya mba Gal Gadot, akhirnya punya pesaing juga. Paling tidak dari sisi visual. Kalau dari sisi cerita ya standar film superhero, yang temanya kerajaan. Kalau dicari sandingan, tak jauh beda dengan Thor dan Black Panther-nya Marvel.
Dimulai dari Tuan Puteri Atlantis, Atlanna (Nicole Kidman), yang kabur dari kerajaan, karena tidak mau dijodohkan. Cukup Siti Nurbaya yang menjalani pahitnya dunia... Mungkin lirik lagu Dewa 19 ini, yang jadi ilham sang Puteri kabur. Di tengah pelarian, dia bertemu dengan seorang penjaga mercu suar (Temuera Morrison), dan jatuh cinta. Mereka menikah dan punya satu anak laki-laki, Arthur Curry, a.k.a Aquaman. Sang calon penguasa Atlantis. Memang ada gitu ya kisah cinta dunia nyata, yang sesederhana ini? Kalau ada, artinya saya kurang beruntung, karena belum pernah menemukannya.

Sabtu, 17 November 2018

Tengkorak: Arah Baru Perfilman Indonesia


Tengkorak
Seperti biasa, nonton filmnya kapan, eh nulis review-nya kapan. Harap dimaklumi saja, namanya juga penulis suka-suka hehehe...
Film Indonesia terakhir yang saya tonton ini, berjudul ‘Tengkorak’. Pertanyaan ketika menonton sebuah film, kenapa film ini musti saya tonton? Tengkorak berbeda dengan film-film Indonesia lainnya. Pertama, film ini bukanlah karya sutradara kenamaan. Film ini hanya hasil sebuah kerja sama antara dosen dan mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Kedua, film ini mengambil gendre yang anti-mainstream. Di tengah gandrungnya gendre horor atau percintaan, film Tengkorak mengangkat gendre science fiction. Sebuah gendre yang sangat jarang terjamah film-film Indonesia.
Sebelum menonton, sempat saya googling sedikit tentang film ini. Sebuah kewajiban, sebelum saya datang ke bioskop. Ada hal-hal menarik tentang film Tengkorak, yang saya dapat dari hasil pencarian informasi. Film Tengkorak ini ternyata selama proses pembuatan didukung oleh pihak-pihak yang tidak punya latar belakang perfilman, meski di beberapa scene memakai efek visual 3D ataupun blue screen. Sang Sutradara, Yusron Fuadi, profesinya adalah sebagai dosen. Di film ini selain jadi Sutradara, Yusron juga sekaligus sebagai Editor, Co Produser, juga Aktor (paket lengkap dah pokoknya hehehe..). Biaya produksinya sangat minim untuk kategori film bergendre fiksi ilmiah, yang hanya sekitaran 400-500 juta saja. Proses produksi sebenarnya sudah dimulai tahun 2014, namun baru bisa selesai November 2017.
Dengan segala ‘kekurangan’ tersebut, film ini ternyata mampu berkiprah di dunia internasional. Film Tengkorak meraih nominasi film sains terbaik kategori fantasi fiksi dan thriller dalam festival film Cinequest di Sanjose, California. Sangat membanggakan pastinya.

Jumat, 16 November 2018

Beautiful Pain: Terperangkap Cinta Segitiga


“Silakan saja menyebut Keira perempuan serakah karena mencintai Landon dan Damon, sama besarnya. Dia tidak peduli meski Landon sakit dan Damon suka memukulinya. Masa lalu yang dimilikinya membuat Keira bertekad untuk mempertahankan mereka berdua.
Berulang kali Damon meminta Keira untuk memilih dan jelas sekali lelaki itu tidak suka menjadi pihak yang kalah. Dia akan melakukan segala cara untuk membuat Keira meninggalkan Landon. Akhirnya Keira tidak mampu menolak dan hanya bisa bernegosiasi agar Damon memberinya waktu satu bulan untuk mengucapkan selamat tinggal pada Landon.
Padahal, kondisi Landon tidak kunjung membaik. Dengan detik-detik yang semakin mendekati batas waktu pemberian Damon, Keira hanya berharap semua yang dia lakukan akan berhasil. Semoga.”

Beautiful Pain
Ketiga paragraf di atas adalah penyebab saya membeli novel ‘Beautiful Pain’. Meski novel ini bertemakan cinta, namun saya tahu pasti cinta ini adalah cinta yang tidak biasa. Bagaimana bisa seorang wanita mencintai dua laki-laki, dan bertekad untuk mempertahankan keduanya? Apakah wanita ini gila? Kalaupun tidak gila, pasti ada alasan kuat kenapa dia bersikap seperti itu. Alasan inilah yang bikin saya penasaran.

Minggu, 09 September 2018

Searching: Sayang Anak, Sayang Anak...


Searching
Nontonnya kapan, bikin tulisannya kapan. Maaf, baru sempet nulis…
Sayang anak, sayang anak. Tulisan ini bukan akan membahas tentang penjual mainan kaki lima. Tulisan ini tentang sebuah film yang judulnya ‘Searching’. Tanpa diundang film ini mendadak berseliweran di lini masa sosial media saya. Dan anehnya, untuk film yang baru kali itu saya tahu judulnya, Searching punya berjibun komentar positif. Panen pujian deh pokoknya. Tahu sendiri kalau sudah nemu yang ‘aneh-aneh’ macam gini, insting keingin-tahuan saya langsung tergerak. Browsing, browsing, browsing... Searching pun seperti kian kuat melakukan flirting kepada saya.
“Tonton gue, tonton gue...” begitu bisiknya mesra.
Layar browser berganti, mengecek Searching di bioskop-bioskop Denpasar. Semua bioskop ternyata membuka layar untuk film ini, meski hanya dua atau tiga pilihan waktu. Aman, kebetulan hari itu dan besoknya saya ada acara. Eh, lusa coba dicek lagi, Searching menghilang dari dua bioskop. Loh, loh, kok bisa? Film ini segitu nggak lakunya?

Kamis, 02 Agustus 2018

MI 6 : Fallout – Seri Terbaik Mission Impossible


MI 6 : Fallout
It’s Mission Impossible time! Francise film action mata-mata ini sampai juga di serinya yang keenam. Di seri keenam ini, Mission Impossible (MI 6) mengangkat sub judul ‘Fallout’. Sebuah titik krusial yang bisa menjadi beban tersendiri. Bagaimana cara membuat seri ini lebih baik dari seri-seri sebelumnya. Setelah menonton film ini, saya bisa bilang kalau Christopher McQuarrie sangat sukses. Sukses membuat seri keenam ini naik tingkat. Bahkan jauh melebihi seri kelima yang dia sutradarai pula.
MI 6 - Fallout adalah sambungan dari MI 5 - Rogue Nation. Maka ada baiknya, sebelum nonton Fallout, anda nonton dulu Rogue Nation. Tokoh-tokohnya tetap sama, termasuk si tokoh jahat, Solomon Lane (Sean Harris). Ilsa Faust (Rebecca Ferguson) pun muncul lagi. Salah satu alasan kenapa saya menunggu seri keenam ini. Saya terlanjur terpesona dengan image misterius wanita cantik yang satu ini. Meski saya musti dibuat sedikit kecewa. Ilsa ternyata tidak menjadi ‘pusat’ cerita, sebagaimana perannya di seri kelima. Meski begitu, dia tidak kehilangan pesona misterius dan kelincahan dalam bertarung. Bahkan, hubungan ‘love and hate’ antara dirinya dan Ethan Hunt (Tom Cruise) juga belum hilang.

Senin, 25 Juni 2018

The Lady Escort: Kontrak Kerja Yang Berakhir Asmara


Mau bahas soal buku aahh... Buku yang kali ini berjudul ‘The Lady Escort’. Entah apa yang ada di benak anda mendengar istilah ‘lady escort’, apakah positif atau negatif? Saat ini, istilah ‘lady escort’ telah mengalami pergeseran makna. Dari hasil browsing-browsing ringan, kata ‘escort’ ini berasal dari bahasa Inggris, yang berarti pendamping. Pekerjaan ‘escort’ berawal muncul di Italia, dimana pengusaha wanita butuh pendamping (a.k.a pengawal) ketika harus melakukan transaksi bisnis di malam hari. Iya, dahulu pekerjaan ‘escort’ lebih banyak dilakukan pria.
Lady Escort
Berkembang, berkembang, berkembang, pengusaha pria ikut-ikutan menggunakan jasa ‘escort’. Bedanya, tugas ‘escort’ wanita ini adalah mendampingi klien dari si pengusaha. Itu pun hanya sebatas menemani jalan atau makan. Dan kini konsep ‘escort’ menjadi terkesan negatif, dimana digunakan untuk menggambarkan pria/wanita penghibur (a.k.a kupu-kupu malam). Entah kapan istilah ‘escort’ ini mengalami pergeseran ‘rasa bahasa’.

Sabtu, 19 Mei 2018

Deadpool 2 – Sekuel Yang Biasa Saja


Deadpool 2
Sesuai judul yang saya pilih, itulah rasa yang muncul usai nonton Deadpool 2. Biasa saja, tidak ada yang spesial (telornya dua). Mungkin karena harga telor lagi mahal? Atau mungkin karena film pertama Deadpool ninggalin kesan terlalu dalam. Padahal saya sudah bela-belain melanggar aturan, yang dibikin sendiri. Satu bulan cuma boleh nonton satu film di bioskop. Sebelumnya kan sudah nonton Infinity War tuh. Iya, sebegitu penasarannya saya pada sekuel film ini. Kalau anda punya pendapat yang beda? Silakan saja, kan kita hidup di negara demokrasi.
Mari kita mulai bedah film ini. Pertama, dari ‘joke-joke’ film perdananya yang bikin saya ngakak parah. Deadpool 2 terkesan hanya ‘mengulang’ ‘joke-joke’ tersebut, dengan minor perubahan. Misalnya saja: joke pindah dari jok belakang taxi ke depan, superhero landing, tangan ‘mini’ yang kini pindah ke kaki, dan beberapa lainnya. Kalau anda menonton film pertama, akan sangat bisa menebak adegan-adegan ini. Istilah standup comedy, “You can’t ‘kill’ audience with same bullet, twice.” Tawa butuh dipancing dengan joke yang segar. Kreatifitas yang baru dan orisinil.

Kamis, 10 Mei 2018

Aroma Karsa - Kolaborasi Duniawi dan Imajinasi


Satu lagi novel baru karya Dee Lestari di rilis. Kali ini berjudul ‘Aroma Karsa’. Sebelum bentuk fisiknya dijual secara konvesional, novel ini sempat dirilis secara digital. Dari dulu sebenarnya saya ini membeli novel ini, cuma selalu tertunda. Ah nanti saja, ah nanti saja. Begitu seterusnya, sampai akhirnya ‘Aroma Karsa’ ada di tangan saya dengan sendirinya. Hadir dalam bentuk kado hadiah ulang tahun. Mungkin ini yang dimaksud dengan ‘kalau sudah jodoh, tidak akan lari kemana’. Terima kasih kepada adik saya, Ramayoga, sehingga novel ini bisa saya miliki.
Aroma Karsa
Novel ‘Aroma Karsa’ memiliki 696 halaman. Iya, novel ini tebal sekali. 696 halaman itu sendiri, di luar halaman daftar isi, dari penulis, tentang penulis, dan halaman tambahan lainnya. Novel versinya cetak diterbitkan oleh PT. Bentang Pustaka. Sedangkan versi digitalnya dirilis melalui Bookslife. Novel yang ada di tangan saya adalah terbitan pertama, Maret 2018.

Sabtu, 05 Mei 2018

Avengers: Infinity War - Bharatayudha Ala Marvel


Infinity War
Kalau anda mengaku penggemar film-film superhero Marvel, pastinya tidak akan melewatkan Avengers: Infinity War. Sebuah film yang ‘menumpuk’ semua jagoan dalam satu frame. Tidak semuanya sih, karena saya catat ada beberapa yang absen. Sebut saja Hawkeye dan Ant-Man. Entah kenapa keduanya tidak hadir dalam perang. Mungkin karena ijin istri melahirkan, acara keluarga, sakit flu, atau ambil sisa cuti tahunan? Entahlah, kurang dijelaskan sebab pastinya. Di luar absennya dua superhero tadi, Infinity War adalah film yang keren. Beneran, sumpah.
Memberi predikat keren bukan karena saya fans Marvel. Ada pula film Marvel yang saya kurang sukai. Misalnya Guardian of Galaxy Vol. 2 dan Thor Ragnarok. Kedua film ini menurut saya terlalu childish. Lelucon-leluconnya juga terlalu receh. Untungnya kemudian rilis Black Panther. Film ini mengembalikan muruah Marvel ke jalan yang benar.
Sempat saya turunkan ekspektasi sebelum menonton. Berpikir bagaimana Marvel akan mengatur alur dengan sedemikian banyak ‘nama besar’. Penambahan durasi, itu sih sudah pasti. Mengingat kini Infinity War menjadi film Marvel dengan durasi terpanjang. Panjangnya durasi juga jadi faktor penurunan ekspektasi. Apa nanti tidak bosan duduk di bioskop selama itu? Dan pemikiran lainnya. Seperti naksir cewek cantik, tetapi nggak yakin kita ada di level yang sama. Ya sudah, turunin ekspektasi, biar nggak kecewa-kecewa amat.

Kamis, 22 Maret 2018

Sekala Niskala : Interaksi Dunia Nyata Dan Maya


Akhirnya ada film yang bikin tergerak untuk datang ke bioskop. Judulnya Sekala Niskala (The Seen and Unseen). Kenapa saya tertarik? Karena setting-nya mengambil tempat di Bali. Merasa berdosa rasanya sebagai orang Bali kalau tidak menonton. Pemainnya pun sebagian besar adalah orang-orang Bali. Ditambah film karya sutradara Kamila Andini ini meraih penghargaan sebagai “Film Terbaik” dalam Berlin Film Festival atau Berlinale. Semakin yakin saya untuk menonton.

Dari membaca beberapa review, film Sekala Niskala ini seperti bertipe ‘film festival’. Yah tahu sendirilah, film festival itu seperti apa. Pasti jalan ceritanya tidak seperti film-film ‘populer’ pada umumnya. Biasanya memakai format teater, dengan alur cerita memakai simbol-simbol. Minim dialog, lebih mengutamakan kekuatan akting dan ekpresi. Dan memang benar saja dugaan saya tersebut. Film Sekala Niskala, memiliki format mirip seperti film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak. Film Indonesia terakhir yang saya tonton. Mirip sekali.

Rabu, 29 November 2017

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak: Menonton Teater Di Layar Lebar



Kemarin malam, akhirnya saya bisa menonton film yang berjudul ‘Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak. Dalam bahasa inggrisnya, ‘Marlina the Murderer in Four Acts’. Saya memakai kata “akhirnya”, karena hujan lebat diwarnai petir dan angin kencang, berkali-kali membatalkan rencana. Habisnya bioskop yang saya pilih rada jauh sih. Cinemaxx Lippo Mall Kuta, itu hampir satu jam perjalanan dari rumah, tergantung situasi lalu-lintas. Kenapa musti di sana? Pengen aja, belum pernah sih. Selain ingin merasakan bedanya dengan nonton di Cinema XXI.
Awalnya saya ingin menonton film ‘Justice League’, karena ingin ‘bertemu’ dengan Gal Gadot. Namun, saya batalkan setelah melihat poster wajah Marsha Timothy. Prinsip saya, jangan pernah ngeduain wanita. Maka saya harus pilih satu diantara dua wanita cantik ini. Gal, Marsha, Gal, Marsha, Gal, Marsha, Gal, Marsha, Gal, Marsha... Saya pun memilih Marsha. Maaf yah Kakak Gal, janji deh nanti film ‘Wonder Woman 2’ saya tonton. Dan maaf juga telah membuang waktu anda selama beberapa detik, untuk membaca paragraf nggak berguna ini hehehe...

Rabu, 08 November 2017

Ayah - Sebuah Novel: Bercerita Cinta Yang Tak Biasa



Siapa yang tidak kenal dengan Andrea Hirata. Seorang penulis yang fenomenal lewat novelnya ‘Laskar Pelangi’. Kebetulan salah satu novel karyanya ada di genggaman saya. Judulnya ‘Ayah - Sebuah Novel’. Novel ini ada di tangan saya karena judulnya tersebut. Sebagai seorang laki-laki, suatu saat nanti (entah kapan), pasti akan menjadi ayah. “Apakah saya akan menjadi seorang ayah yang baik?” Sebuah pertanyaan yang selalu mengusik diri saya. Dari membaca novel ini saya berharap bisa mendapat sedikit pencerahan. Tentang bagaimana menjadi seorang ayah.
Novel ini memiliki sampul yang sederhana, dengan didominasi warna hitam. Tergambar siluet seorang laki-laki, anak kecil, dan sepeda ontel. Diterbitkan oleh PT. Bentang Pustaka, pertama kali tahun 2015. Memiliki 396 halaman, belum termasuk daftar isi dan lainnya. Dari pemilihan font dan spasi, sangat enak untuk dibaca.
Begitu membuka sampul, kita disajikan empat halaman khusus berisi ‘Endorsement for Andrea Hirata - The Rainbow Troops’. Narsis juga nih Bung Andrea, pikir saya. Semua pujian dibuatin halaman khusus segala hehehe... Tapi memang penting sih, karena pujian bagi penulis itu ibarat vitamin. Dengan begitu, semangat untuk menulis bisa terus menyala dalam diri.