Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Oktober 2020

Cinta Panggangan Pertama 01


 01

TIDAK ada yang lebih menyebalkan ketimbang seorang chef yang mendadak kehilangan kemampuan memasaknya. Itulah yang dialami oleh Dika Alamsyah satu minggu ke belakang ini. Seorang chef muda kenamaan, yang wajahnya kerap kali wara-wiri di layar televisi, tiba-tiba saja mentok dalam membuat dessert. Hidangan yang  harusnya sederhana untuk seseorang yang sarat pengalaman seperti dirinya. Tiba-tiba saja, seluruh resep yang pernah diolahnya seakan menolak untuk menyajikan rasa yang dicari.

“Kita perlu menampilan menu baru yang fresh. Yang berbeda dari yang biasa kita sajikan setiap minggunya.”

Kata-kata dari sang pemilik restoran itulah yang bikin Dika pusing, sekaligus termotivasi. Dua minggu lagi, rencananya akan diselenggarakan special event di hotel dan juga restoran milik sang milyader. Merayakan ulang tahun emas jejaring bisnisnya. Undangannya tentu tidak main-main. Mengingat luasnya pergaulan sang pemilik, dari mulai kalangan selebritis sampai petinggi negeri masuk ke dalam daftar undangan. Sebuah tanggung jawab besar kini ada di pundak Dika, yang memang secara khusus dipilih sebagai koordinator untuk event tersebut. Tanggung jawab besar, untuk sebuah peluang peningkatan karier yang besar pula. Apabila berhasil, bukan tidak mungkin posisi chef utama yang sedang kosong bisa jatuh ke tangannya.

“Ini sih terlalu internasional rasanya, Dika. Saya itu maunya untuk dessert kita tampilkan hidangan yang lebih nusantara. Agar mewakili kuliner tradisional negeri, tapi dengan cita rasa yang bisa nantinya dinikmati juga oleh lidah para undangan asing.”

Komentar terakhir itu masing saja teringang-ingang di kepala Dika. Selesai sang bos besar mencicipi puding buah yang dia tawarkan untuk dimasukkan ke dalam menu.

Selasa, 28 April 2020

Dunia Maya 03


03
SEPERTI telah diduga sebelumnya, kemarin hanya ada dua anak yang datang. Kelas jadi selesai tidak terlalu lama. Sesuai kesepakatan, sehabis itu Maya menjalani kursus Bahasa Inggris, untuk pertama kalinya. Pusing Maya hampir satu jam dicekoki sejumlah kata-kata baru. Sedikit sekali yang nyantol di otak. Hanya yes, no, dan I can not speak English. Paling tidak, menurut Maya, dua kata dan juga satu kalimat itu nantinya berguna kalau bertemu orang asing. Abah Zain tentu tak memaksa Maya untuk langsung bisa. Dia tetap sabar, sebagaimana dulu ketika mengajarkan huruf dan angka. Paling cuma senyum-senyum saja. Terutama bila ada nada baca yang terdengar janggal keluar dari mulut gadis tersebut. Ribet sekali Bahasa Inggris itu, begitu kesimpulan yang bisa ditarik dari hasil belajar perdana.
Tidak mau menyerah begitu saja, kini di tangan Maya ada sebuah kamus saku. Ukurannya mungil sehingga bisa masuk ke saku celana. Abah yang memberikannya. Pokoknya sehari musti dapat tambahan kosa kata baru, begitulah pesan dari Abah. Pelan-pelan saja, nggak usah terlalu dipaksakan, begitu pesan tambahan lagi darinya.
“Tree... green... bird... avocado... flower...”
Sambil duduk bergelayut di sebuah batang pohon apokat, Maya melafalkan satu kata demi satu kata. Kalau keluarga yang lain memilih beristirahat di gubuk, maka pohon ini adalah tempat favorit Maya. Tidak begitu tinggi, namun memiliki rangkaian daun yang sangat rindang. Cukup mampu melindungi diri dari terpaan terik matahari. Angin sepoi juga siap memanjakan dengan kesejukan. Ditambah pemandangan lereng bukit yang menyegarkan mata. Sebuah paduan yang membuat Maya betah berlama-lama ada di sana.
Sengaja Maya memilih kata-kata yang dekat dengan dirinya, saat ini. Pohon, hijau, burung, apokat, dan bunga. Semua itu ada disekitarnya. Dengan begitu akan lebih mudah otaknya untuk merekam kata-kata tersebut. Begitu sih niatnya, dan sepertinya itu cukup berhasil. Beberapa kata kini sudah mulai lancar dia lafalkan. Tanpa perlu lagi melihat kamus yang dipegangnya.

Senin, 30 Maret 2020

Dunia Maya 02


02
ESOKNYA, pagi-pagi sekali Maya sudah bangun. Memang sudah menjadi sebuah rutinitas bagi dirinya setiap hari. Menunaikan kewajiban untuk membantu sang ibu. Kue-kue di kukusan tidak akan bisa selesai tepat pada waktunya, bila dikerjakan seorang diri. Harus ada pembagian kerja antara mengerjakan adonan, membungkus dan memasaknya. Cuma yang berbeda hari ini adalah raut wajah Maya. Terlihat lebih berbinar dari hari biasanya. Sepertinya ibu menyadari hal itu.
“Kamu kok senyum-senyum terus dari tadi?”
Maya tersipu.
“Nggak apa-apa, Bu. Cuma lagi seneng aja.”
“Kalau lagi seneng, mbok cerita-cerita gitu sama Ibu.”
“Abah Zain minta aku ikut mengajar hari ini, Bu.”
Raut wajah ibu mendadak berubah. Setiap kali Maya menyebut nama Abah Zain, pastilah ekspresi wajah ibu berubah agak muram. Memang berusaha dia menutupi itu, tapi masih sangat terbaca. Eskpresi yang seakan menunjukkan penyesalan dalam diri. Maya mengerti maksud dari raut wajahnya tersebut. Sebuah penyesalan karena tidak bisa berlaku adil kepada kedua anaknya. Tidak bisa mengirim si anak gadis untuk bersekolah. Padahal, sudah berkali-kali Maya katakan kalau itu tidak apa-apa. Kalau dia sangat bisa mengerti ketidak-mampuan orang tuanya. Meski begitu, tetap saja raut wajah penyesalan itu akan selalu muncul.
Ayah dan ibu tahu kalau Abah Zain yang kerap mengajari Maya baca tulis. Begitu pula dengan anak-anak pedagang lain di pasar. Mereka kan sudah menjadi bagian dari kawasan pasar induk. Cerita tentang “sekolah” si Abah sudah merebak di lingkungan pasar. Sama seperti Maya, setiap bulan pasti ayah dan ibu menyisihkan sedikit hasil panen untuk diberikan kepada Abah. Sebagai ucapan terima kasih. Sebagai pengganti pula biaya mengajar. Pemberian itu tidak pernah ditolak oleh Abah. Dia bisa mengerti, kalau orang tuaku tidak mau menerima kebaikan Abah secara cuma-cuma.

Kamis, 12 September 2019

01 Malam Kelahiran


MENJELANG senja mendung semakin tebal bergelayut menghiasi langit. Senja yang biasanya berwarna jingga mempesona, hari ini berganti hitam nan kelam. Sepertinya hanya persoalan waktu kapan hujan akan turun. Itu pun ternyata tidak begitu lama. Awan kelabu sepertinya tidak kuat lagi menahan muntahan air hujan. Tetes demi tetesnya mulai berjatuhan. Perlahan menjadi semakin deras dan deras. Angin yang menderu ikut membuat suasana semakin seru. Seakan tidak ingin ketinggalan mendramatisir keadaan, kilat dan guntur ikut bergantian timbul dan tenggelam. Langit tidak henti-hentinya bercahaya dan bergemuruh. Sampai akhirnya malam sepenuhnya menggantikan senja.
Malam itu Wira tidak bisa tidur. Suara kilat yang terakhir terdengar terlalu memekakkan telinga. Seakan-akan kilat itu menyambar hanya beberapa meter dari kamar. Menakutkan sekali untuk seorang anak yang baru berumur empat tahun. Wira menarik selimut sampai menutupi wajah. Meringkuk dia di dalam sana. Berharap kegaduhan di luar akan segera berlalu.
Di dalam “hiruk pikuk” suasana di atas sana, sayup-sayup telinga Wira menangkap suara-suara. Bermula dari suara dering telepon, kemudian disusul suara ayah dan ibunya. Malam yang riuh kini jadi semakin riuh. Entah apa yang keduanya bicarakan tengah malam begini. Sepertinya cukup serius. Wira tahu itu dari nada bicara ayahnya. Nada suara sedikit meninggi dan memburu. Itu berarti ada kepanikan yang sedang terjadi. Ada apa gerangan? Tanyanya dalam hati. Rasa takut yang tadi melanda, kini berganti rasa penasaran. Sampai pintu kamar terbuka dan lampu menyala. Sang ibu muncul dan menyingkap selimut.
“Nak, kita berangkat ke rumah sakit.” Hanya itu yang diucapkan oleh sang ibu. Dia minta Wira untuk segera bersiap-siap. Mereka akan segera berangkat. Di malam, dimana hujan sedang deras-derasnya.
Ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Bertanya-tanya lagi Wira dalam hati.

Senin, 03 Juni 2019

Dunia Maya 01


01
DENGAN penuh semangat Maya berlarian lincah sepanjang areal perkebunan. Perkebunan yang selama ini diurus oleh kedua orangnya. Mereka hanyalah sebagai petani penggarap. Kebun yang lebih menyerupai hutan produksi tersebut adalah milik seorang pejabat di kota. Kenapa banyak orang  menyebutnya sebagai hutan? Karena kebun puluhan hektar itu dipenuhi oleh pohon-pohon tinggi, dan juga semak belukar. Memang lebih menyerupai hutan ketimbang kebun. Pepohonan hijau yang ada, di kebanyakan dominasi oleh pohon apokat, durian, cengkeh dan kopi. Maya sangat suka berada di kebun tersebut. Udaranya sangat segar, lantaran berada di ketinggian bukit. Bukit Intaran, begitu orang disekitar menyebutnya. Kemanapun kita memandang, semua yang ada seakan memanjakan mata. Orang-orang mungkin melihat tempat ini sebagai kebun ataupun hutan. Namun bagi Maya, tempat ini adalah arena bermain yang sangat menyenangkan.
Maya dan bukit Intaran seolah memiliki ikatan batin. Bagaimanapun dia bisa dikatakan tumbuh besar bersama bukit tersebut. Sebagian hari sedari kecil dihabiskan di tempat itu. Setiap jengkalnya sudah dihapal di luar kepala. Areal mana yang aman untuk dilalui, dan bagian mana yang rawan bagi keselamatan. Memanjati pohon-pohon tinggi yang ada di kebun juga sangat fasih lakukan Maya. Tumpukan buah-buah apokat yang kini lagi disortir, adalah hasil aksi panjat memanjat yang dia lakukan seharian.
“Maya sini sebentar, bantuin ibu ngepak buah ke karung.”
“Iya Bu, sebentar...”
Deretan tangkai mawar yang mulai digelayuti kuncup-kuncup mungil, menyedot perhatian Maya sedari tadi. Kuncup yang akan segera bertransformasi menjadi bunga yang indah. Mereka sudah dianggap Maya sebagai anak sendiri. Akan sangat indah, seandainya di tengah hutan ada warna-warna yang berbeda selain hijau. Itu yang mendasari dia untuk menanamnya. Mumpung ada beberapa meter tanah kosong yang bisa dimanfaatkan.

Minggu, 19 Mei 2019

Rahasia Salinem – Sebenarnya Setiap Manusia Punya Rahasia


Rahasia Salinem
Beberapa bulan tersimpan dengan rapi, akhirnya novel Rahasia Salinem ada di tangan juga untuk selesai dibaca sampai bab terakhir. Saya orangnya memang seperti itu. Mumpung ada rejeki dibeli saja dulu. Soalnya saya bukan manusia yang punya penghasilan rutin setiap bulan, seperti manusia ‘normal’ lainnya. Bacanya kan bisa nanti saja kalau punya waktu kosong. Dan tiga hari lalu, waktu ‘kosong’ itu tiba. Kerjaan sudah selesai. Mau jalan-jalan belum ada anggaran. Mau nonton tidak ada yang menarik perhatian. Akhirnya bongkar-bongkar tumpulan novel. Disanalah Rahasia Salinem menampakkan dirinya. Setelah ‘menanti’ cukup lama.
Sebenarnya novel ini sudah sempat saya baca empat bab, secara online, lewat situs storial.co. Dan saya sangat tertarik dengan gaya penulisan dari penulisnya. Tapi begitulah, saya tergolong tipe old fashion kalau soal membaca buku. Harus dipegang di tangan, terus dibacanya sambil goleran santai. Kadang duduk, kadang tiduran, kadang kayang. Banyak gaya deh pokoknya hehehe... Kalau baca dilayar laptop atau ponsel, mata saya jadi cepat lelah. Tidak kuat dengan radiasi cahayanya. Maka, saya tunggu saja edisi cetak Rahasia Salinem mulai dipasarkan.
Edisi cetak Rahasia Salinem keluar dua tipe, hard cover dan soft cover. Punya rejeki lebih, saya beli saja yang hard cover. Kenapa? Karena saya tahu kalau menulis novel (bagus) itu sangat susah – berkali-kali mencoba, tidak pernah juga berhasil. Dan saya juga tahu kualitas cerita novel ini bagus, tidak akan mengecewakan.

Minggu, 24 Maret 2019

Partikel – Memahami Hayati Melalui Fiksi


Novel yang akan kita bahas kali ini adalah Partikel. Seri keempat dari semesta Supernova, karya Dee Lestari. Dibutuhkan waktu delapan tahun, bagi Partikel untuk hadir menemui pembacanya. Sebuah jangka waktu yang amat panjang untuk memproduksi sebuah karya. Menurut penulisnya, dalam durasi tersebut, Partikel digodok, digarap, dimatangkan dan ditransformasi menjadi kata-kata. Tidak sia-sia menanti selama sewindu, karena Partikel menjelma sebagai seri Supernova yang paling meninggalkan kesan. Paling tidak menurut saya. Meski dibaca berulang-ulang, kesan itu tetap tidak juga hilang.
Partikel
Partikel diterbitkan oleh Penerbit Bentang (PT Bentang Pustaka). Pada Agustus 2017, novel ini sudah dicetak ulang sebanyak enam kali. Memiliki total halaman, kurang lebih 490 lembar. Sama seperti seri lainnya, novel ini juga memiliki tampilan simbolnya sendiri. Simbol berwarna hijau, berupa lingkaran dengan tanda palang di tengahnya. Kenapa hijau? Mungkin, karena novel ini mengajak untuk memahami dunia hayati melalui fiksi. Iya, Partikel mengajak kita untuk sejenak menoleh ke sekitar. Ke Bumi di mana kita bertumbuh, beserta dengan segala makhluk yang ada di dalamnya. Termasuk manusia, tentunya.

Jumat, 01 Februari 2019

Problematika Bidadari Angkasa 2


Kisah mbak Jingga ternyata berlanjut! Itu yang terlintas dipikiran, saat saya melihat Novel Diary Pramugari 2: Pilot, Pramugari & Penumpang. Novel yang tidak sengaja tertangkap lirikan mata, di rak sebuah toko buku. Memang sejak dulu tertarik dengan kisah hidup mbak Jingga, novel ini langsung saya ambil tanpa pikir panjang. Bayar di kasir, langsung di bawa pulang.
Diary Pramugari 2
Oya, judul tulisan ini saya samakan dengan tulisan pertama. Cuma ditambahkan angka 2 (dua) di belakangnya, biar terkesan seperti sinetron atau FTV gitu hehehe... Buat yang belum tahu tulisan saya tentang kisah hidup awal mbak Jingga, bisa dibaca di sini.
Sebelum kita bahas lanjutan kisah hidup mbak Jingga, mari bahas dulu penampilan fisik dari Novel Diary Pramugari 2. Tidak banyak yang berbeda dari tampilan depan. Masih menampilkan betis wanita yang memakai high heels warna merah. Ukuran novel kedua ini pun sangat identik, dengan novel pertama. Memakai dimensi 18,5 x 13 cm, sehingga nyaman untuk dipegang atau ditaruh di tas. Hanya kini tulisan judul memakai ‘sensasi’ huruf timbul, yang bisa terasa apabila diraba dengan jari. Perbedaan lainnya, tentu pada jumlah halaman yang lebih tebal. Novel kedua ini memiliki total 464 halaman. Edisi pertama yang saya pegang (Desember 2017), penerbitnya masih tetap Pohon Cahaya.

Jumat, 04 Januari 2019

The Woman In Cabin 10


Satu lagi novel yang selesai saya baca. Judulnya sesuai dengan judul tulisan ini. The Woman In Cabin 10. Sebuah novel misteri, action, detektif, atau triller, entah yang mana yang sesuai untuk menggolongkan gendre dari novel ini. Novel ini saya pilih, ya karena memang lagi jenuh dengan tema cinta-cintaan. Butuh sesuatu yang seru dan mengajak untuk sedikit berpikir. Membuat ikut menebak-nebak alurnya akan dibawa kemana. Novel ini sepertinya sesuai dengan kriteria yang saya inginkan. Ambil, lalu bawa ke kasir.
The Woman In Cabin 10
Nuansa mencekam sudah terlihat dari sampul Novel The Woman In Cabin 10 ini. Hitam legam, ditambah kapal pesiar yang berlayar di atas lautan berwarna merah, semerah darah. Cukup jelas menggambarkan setting dan gambaran kasar terhadap alur cerita. Memiliki 469 halaman, itu pun belum termasuk halaman tambahan, membuat novel ini cukup tebal. Novel yang saya beli adalah cetakan kedua (Mei 2018). Sebuah novel terjemahan karya Ruth Ware, dimana penterjemahnya adalah Reni Indardini, dan penyunting adalah Yuli Pritania. Diterbitkan oleh Penerbit Noura Books (PT. Mizan Publika), dan disitribusikan oleh Mizan Media Utama (MMU).
Apa lagi ya? Langsung ke alur aja deh ya.

Jumat, 16 November 2018

Beautiful Pain: Terperangkap Cinta Segitiga


“Silakan saja menyebut Keira perempuan serakah karena mencintai Landon dan Damon, sama besarnya. Dia tidak peduli meski Landon sakit dan Damon suka memukulinya. Masa lalu yang dimilikinya membuat Keira bertekad untuk mempertahankan mereka berdua.
Berulang kali Damon meminta Keira untuk memilih dan jelas sekali lelaki itu tidak suka menjadi pihak yang kalah. Dia akan melakukan segala cara untuk membuat Keira meninggalkan Landon. Akhirnya Keira tidak mampu menolak dan hanya bisa bernegosiasi agar Damon memberinya waktu satu bulan untuk mengucapkan selamat tinggal pada Landon.
Padahal, kondisi Landon tidak kunjung membaik. Dengan detik-detik yang semakin mendekati batas waktu pemberian Damon, Keira hanya berharap semua yang dia lakukan akan berhasil. Semoga.”

Beautiful Pain
Ketiga paragraf di atas adalah penyebab saya membeli novel ‘Beautiful Pain’. Meski novel ini bertemakan cinta, namun saya tahu pasti cinta ini adalah cinta yang tidak biasa. Bagaimana bisa seorang wanita mencintai dua laki-laki, dan bertekad untuk mempertahankan keduanya? Apakah wanita ini gila? Kalaupun tidak gila, pasti ada alasan kuat kenapa dia bersikap seperti itu. Alasan inilah yang bikin saya penasaran.

Minggu, 26 Agustus 2018

Happiness: Saat Anak Tidak Menjadi Dirinya


Happiness
Satu lagi buku yang selesai saya baca. Sebuah novel, yang berjudul Happines. Saya menemukan novel ini ditengah belantara novel-novel di Gramedia. Kenapa saya tertarik dengan novel ini? Karena harganya, iya harganya. Di antara ratusan, mungkin ribuan novel-novel seharga 55.000,- rupiah ke atas, Happiness dilabeli harga 20.000,- rupiah. Iya, dua puluh ribu rupiah. Anda tidak salah baca. Padahal waktu itu lagi tidak ada diskon. Saya sendiri tidak percaya. Sampai-sampai saya konfirmasi ulang kepada salah satu penjaga. Saya tidak salah baca, memang dua puluh ribu rupiah. Happiness berarti kebahagian. Tentu tak ada salahnya, membeli kebahagian seharga dua puluh ribuan, kan?

Senin, 25 Juni 2018

The Lady Escort: Kontrak Kerja Yang Berakhir Asmara


Mau bahas soal buku aahh... Buku yang kali ini berjudul ‘The Lady Escort’. Entah apa yang ada di benak anda mendengar istilah ‘lady escort’, apakah positif atau negatif? Saat ini, istilah ‘lady escort’ telah mengalami pergeseran makna. Dari hasil browsing-browsing ringan, kata ‘escort’ ini berasal dari bahasa Inggris, yang berarti pendamping. Pekerjaan ‘escort’ berawal muncul di Italia, dimana pengusaha wanita butuh pendamping (a.k.a pengawal) ketika harus melakukan transaksi bisnis di malam hari. Iya, dahulu pekerjaan ‘escort’ lebih banyak dilakukan pria.
Lady Escort
Berkembang, berkembang, berkembang, pengusaha pria ikut-ikutan menggunakan jasa ‘escort’. Bedanya, tugas ‘escort’ wanita ini adalah mendampingi klien dari si pengusaha. Itu pun hanya sebatas menemani jalan atau makan. Dan kini konsep ‘escort’ menjadi terkesan negatif, dimana digunakan untuk menggambarkan pria/wanita penghibur (a.k.a kupu-kupu malam). Entah kapan istilah ‘escort’ ini mengalami pergeseran ‘rasa bahasa’.

Kamis, 10 Mei 2018

Aroma Karsa - Kolaborasi Duniawi dan Imajinasi


Satu lagi novel baru karya Dee Lestari di rilis. Kali ini berjudul ‘Aroma Karsa’. Sebelum bentuk fisiknya dijual secara konvesional, novel ini sempat dirilis secara digital. Dari dulu sebenarnya saya ini membeli novel ini, cuma selalu tertunda. Ah nanti saja, ah nanti saja. Begitu seterusnya, sampai akhirnya ‘Aroma Karsa’ ada di tangan saya dengan sendirinya. Hadir dalam bentuk kado hadiah ulang tahun. Mungkin ini yang dimaksud dengan ‘kalau sudah jodoh, tidak akan lari kemana’. Terima kasih kepada adik saya, Ramayoga, sehingga novel ini bisa saya miliki.
Aroma Karsa
Novel ‘Aroma Karsa’ memiliki 696 halaman. Iya, novel ini tebal sekali. 696 halaman itu sendiri, di luar halaman daftar isi, dari penulis, tentang penulis, dan halaman tambahan lainnya. Novel versinya cetak diterbitkan oleh PT. Bentang Pustaka. Sedangkan versi digitalnya dirilis melalui Bookslife. Novel yang ada di tangan saya adalah terbitan pertama, Maret 2018.

Senin, 20 November 2017

Negeri 5 Menara - Keakraban Enam Sekawan


Satu lagi novel yang selesai saya baca. Sebuah Novel yang berjudul ‘Negeri 5 Menara’. Tertarik saya membacanya, karena kebetulan pernah bertatap mula langsung dengan penulisnya. Ahmad Fuadi, atau lebih dikenal dengan nama pena A. Fuadi. Tidak bertemu sampai bercakap-cakap sih. Saat itu, sang penulis menjadi pembicara pada salah satu kegiatan Ubud Writers & Readers Festival, tanggal 28 Oktober 2017.

Berawal dengan pertanyaan, “Sudah pada baca buku saya?” Saya yang bukanlah pembaca aktif, agak malu saat menjawab belum, dalam hati. Maka usai sesi kegiatan yang bertajuk ‘Emerging Voices: Write!” tersebut, saya mencoba untuk mencari-cari novel ini. Paling tidak dengan cara pinjam dulu. Setelah selesai membaca, saya menilai novel ini memang layak untuk dibeli.
Kenapa meminjam dulu? Karena saya sedikit khawatir dengan isinya. Dari hasil pemaparan A. Fuadi, saya mendapat gambaran umum kalau novel ini diangkat dari kisah nyata. Kisah hidup sang penulis sendiri. Kisah selama mengikuti kegiatan pembelajaran di salah satu pesantren, di daerah Jawa Timur. Pondok Madani atau Pesantren Gontor, di Jawa Timur (mohon maaf bila ada kesalahan penyebutan). Saya sendiri bukan muslim, karena itu saya takut kurang bisa mengerti dengan istilah-istilah yang dipakai pada novel. Ternyata dugaan saya tersebut salah. Bahasa yang dipakai cukup universal. Mungkin ada beberapa istilah-istilah dalam bahasa Arab dan Sumatera, namun itu pun ada penjelasannya dalam bentuk footnote.

Rabu, 08 November 2017

Ayah - Sebuah Novel: Bercerita Cinta Yang Tak Biasa



Siapa yang tidak kenal dengan Andrea Hirata. Seorang penulis yang fenomenal lewat novelnya ‘Laskar Pelangi’. Kebetulan salah satu novel karyanya ada di genggaman saya. Judulnya ‘Ayah - Sebuah Novel’. Novel ini ada di tangan saya karena judulnya tersebut. Sebagai seorang laki-laki, suatu saat nanti (entah kapan), pasti akan menjadi ayah. “Apakah saya akan menjadi seorang ayah yang baik?” Sebuah pertanyaan yang selalu mengusik diri saya. Dari membaca novel ini saya berharap bisa mendapat sedikit pencerahan. Tentang bagaimana menjadi seorang ayah.
Novel ini memiliki sampul yang sederhana, dengan didominasi warna hitam. Tergambar siluet seorang laki-laki, anak kecil, dan sepeda ontel. Diterbitkan oleh PT. Bentang Pustaka, pertama kali tahun 2015. Memiliki 396 halaman, belum termasuk daftar isi dan lainnya. Dari pemilihan font dan spasi, sangat enak untuk dibaca.
Begitu membuka sampul, kita disajikan empat halaman khusus berisi ‘Endorsement for Andrea Hirata - The Rainbow Troops’. Narsis juga nih Bung Andrea, pikir saya. Semua pujian dibuatin halaman khusus segala hehehe... Tapi memang penting sih, karena pujian bagi penulis itu ibarat vitamin. Dengan begitu, semangat untuk menulis bisa terus menyala dalam diri.

Senin, 26 Juni 2017

Problematika Bidadari Angkasa


Saya baru saja selesai membaca sebuah buku. Sebuah novel tepatnya. Buku yang sebenarnya sudah lama saya miliki, namun baru sempat dibaca. Sebuah kebiasaan jelek saya sejak lama. Suka beli tapi lupa dibaca. Akhirnya jadi penghuni rak buku tanpa tersentuh. Bahkan diantaranya ada yang masih ‘perawan’, dengan pembungkus plastik masih terpasang. Judul buku ini Diary Pramugari: Seks, Cinta & Kehidupan. Diantara anda mungkin sudah ada yang membacanya. Secara garis besar, judul buku ini sudah cukup menggambarkan isi buku. Ceritanya memang menggambarkan problematika ‘bidadari angkasa’.

Kenapa saya tertarik dengan buku ini? Sebelum menjawab itu, mari kita lihat novel ini secara fisik. Novel ini terbit pertama kali bulan November 2011. Kemudian dicetak ulang beberapa kali, sampai akhirnya mendapat stempel ‘Best Seller’. Ditulis oleh Agung Webe, seorang penulis asal Yogyakarta. Sampul depan dominan berwarna hitam, dengan gambar betis dan sepatu hak tinggi, khas pramugari. Di sampul belakang didominasi warna merah. Total memiliki 352 halaman, yang terbagi atas 36 bab. Secara harfiah, novel ini nyaman dibaca, karena memiliki font yang besar dan spasi yang cukup lebar. Nggak bikin sakit matalah, intinya.

Selasa, 06 Juni 2017

3-Some: Dua Lelaki, Satu Perempuan


Pada kesempatan ini saya akan mengajak anda ber-threesome. Eh, jangan berpikir yang nggak-nggak dulu. Bukan threesome yang itu, beneran bukan. Ini adalah tentang sebuah buku, yang judulnya ‘3-Some’. Saya tidak akan nyalahin kalau tadi anda sempat berpikir sedikit ‘nakal’, karena saya pun tadinya begitu. Saat melihat buku ini di rak toko, fantasi saya sempat terpancing. Saya tidak munafik, saya lelaki normal. Pintar juga penulis buku ini memilih judul, pikir saya waktu itu.
Singkat cerita, saya bawa buku ini ke kasir. Saya bayar dan saya bawa pulang. Begitu terbebas dari plastik pembungkus, saya langsung mengecek kondisi buku secara fisik. Sebuah kebiasaan lama begitu dapat buku baru. Sampul depan dan belakang dominan berwarna coklat tua. Terdiri atas 229 halaman. Diterbitkan oleh PT. Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia, di tahun 2012.
Pada sampul depan, tertulis pula sub judul: “2 Lelaki dan 1 Perempuan berkolaborasi, demi 21 kisah ini.” Sesuai dengan sub judul tersebut, buku ini memang sebuah kompilasi cerita pendek (cerpen). Ditulis oleh tiga penulis, yaitu: @hendriyulius, @joeandrianus, dan @nunkiehanda. Satu lagi keunikan dari buku ini. Penulisnya memakai sosial media mereka. Lumayan kan buat nambah followers. Demikian pula ketika mereka menggambarkan diri sendiri di belakang buku. Mereka memakai kata-kata yang memancing senyum.

Rabu, 06 April 2016

Supernova: Ledakan Besar Pada Galaksi Pernovelan


“Sebuah akhir akan melahirkan sebuah awal. Kata “Tamat” akan menggiring kita ke “Pendahuluan” yang baru. Sampai bertemu di kisah berikutnya.” – Dee Lestari

Inteligensi Embun Pagi

Qoute diatas sengaja saya kutip, karena itulah yang mewakili perasaan saya. Perasaan saat sampai di lembar teraktir Novel Supernova: Inteligensi Embun Pagi (IEP), karya Dee Lestari. Lembar terakhir - yang katanya - seri terakhir dari serial Novel Supernova. Hanya satu yang muncul di benak saya selesai menbaca. Supernova seharusnya belum berakhir. Kata TAMAT tidak cocok disematkan diakhir keping Inteligensi Embun Pagi. Keping 99, tepatnya. Terlalu banyak hal yang belum terjawab. Terlalu banyak pertanyaan yang justru muncul. Terlalu banyak.
Awal saya tenggelam dalam tarikan arus Supernova, karena sebuah ‘kecelakaan’. Jujur saya katakan. Novel seri pertama Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (BPBJ), ada ditangan saya karena dipaksa. Saat itu saya masih duduk di bangku kuliah. Salah seorang teman wanita menyodorkan novel itu pada saya. Dengan hanya berbekal sebuah pesan: “Baca nih, cocok buat karakter kamu.” Padahal dia tahu saya bukanlah tipe pembaca novel. Menurut penilaian saya saat itu novel identik dengan drama, kisah cinta yang melankolis. Dimana semua itu saya nilai sangat membosankan, dan jauh dari realitas kehidupan. Saya sempat menolaknya, namun teman saya itu tetap memaksa. Jadilah KPBJ teronggok di kamar saya dua minggu lamanya. Tidak tersentuh, tidak dianggap ada.

Selasa, 15 Maret 2016

Romansa Kedai Kopi


Ini adalah sebuah cerita bertema cinta dan mengambil latar kedai kopi. Sudah tergambar begitu jelas dari judulnya. Tulisan ini adalah murni tentang romansa. Tidak ada misteri tersembunyi di dalamnya. Mungkin pernah terjadi, sebuah kisah cinta di kedai kopi yang berakhir tragedi. Namun tidaklah dengan ceritaku yang satu ini.
*****
“Masih layar kosong juga?”
Tepukan pada bahu mengagetkanku. Rupanya itu Bli Gde, membawakan gelas kopi keduaku. Kualihkan pandangan dari layar laptop.
“Iya, begitulah.” Kuhela nafas panjang.
“Kubilang juga apa. Kamu haruslah merasakan cinta, untuk bisa menulis sebuah cerita cinta.”
Entah berapa kali sudah Bli Gde mengucapkan kalimat itu. Awalnya kuanggap sekedar angin lalu. Sekedar ledekan untuk kemampuan menulisku. Namun, beberapa hari ini kurasakan kalau kalimat itu mulai masuk akal. Hampir dua minggu sudah layar laptopku kosong. Tidak ada satupun kalimat tertulis disana. Sedangkan deadline penumpulan tulisan sudah semakin dekat.  
“Apa Bli nggak ada kesibukan lain, selain gangguin aku?”
Kucoba mengalihkan pembicaraan. Tema cinta tidaklah begitu menarik untuk kubahas. Terutama dalam mood hati seperti saat ini.
Bli Gde nyengir kuda. “Kenapa aku musti sibuk? Kan disini aku bosnya.”

Minggu, 01 Desember 2013

Sang Penari Dan Aku


Namanya adalah Sekar Jagat. Nama itu diambil dari sebuah nama tarian tradisional Bali. Orang-orang biasa memanggilnya Sekar. Bukanlah sebuah kebetulan ia menyandang nama itu sejak lahir. Ia terlahir sebagai gadis Bali dan kedua orang tuanya berprofesi sebagai seniman. Sang ayah adalah pemusik tradisional, sedangkan sang ibu adalah seorang penari. Nama itu sudah dipersiapkan untuknya jauh hari sebelum kelahirannya. Sang ayah sudah memanggilnya dengan nama itu saat mengelus perut sang istri yang semakin membesar. Sang ibu sudah memanggilnya dengan nama itu saat mulai merasakan gerakan dirahimnya. Sampai saat yang dinantikan pun tiba. Hari itu, menjelang dini hari, untuk pertama kalinya sang pemilik nama menghirup udara dunia.
“Lihat matanya mirip biang-nya, pasti besarnya akan menjadi penari juga”, sang nenek berseru bahagia.
“Oh tidak lebih mirip ajik-nya”, sang kakek berseru tidak kalah bahagia.
“Ah Bli tahu apa, pakai dulu kaca mata sana”.
“Tiang tidak perlu kaca mata untuk melihat cucu sendiri”.
“Bli itu sudah rabun, mengenali anak sendiri dari jarak sepuluh meter saja susah”.
“Tapi itu tidak berlaku untuk cucu”.
Perdebatan antara kedua lanjut usia itu disambut tawa oleh mereka yang ada disana. Kamar rumah sakit itu dipenuhi oleh aura kebahagiaan. Semuanya saling bercengkrama. Semuanya saling berbagi cerita. Semuanya terlihat bahagia. Terutama orang tua Sekar yang telah lama menantikan kelahiran anak pertama mereka.
Di antara mereka yang ada di ruangan itu, ada dua orang yang belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Orang pertama adalah Sekar. Tidak dapat disalahkan memang karena umurnya baru dua hari. Dia terlihat hanya bergelinjang di pelukan sang ibu. Matanya bahkan masih terpejam. Ia tentu tidak mengerti kalau dia-lah bintang pembicaraan malam itu. Sedangkan orang kedua adalah aku. Iya, aku.
Siapakah aku? Saat itu aku hanya seorang bocah berusia tiga tahun. Aku kebetulan ada di ruangan itu karena orang tuaku menjenguk orang tua Sekar. Mereka bersahabat sudah sejak lama. Ayahku bersahabat dengan ayah Sekar karena pernah berkolaborasi membuat musik gamelan. Entah kebetulan atau tidak, ibuku dan ibu Sekar juga pernah menari bersama dalam sebuah pementasan Sendratari. Mereka seakan memang sudah berjodoh untuk menjadi sahabat.