Tampilkan postingan dengan label Dee Lestari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dee Lestari. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Maret 2019

Partikel – Memahami Hayati Melalui Fiksi


Novel yang akan kita bahas kali ini adalah Partikel. Seri keempat dari semesta Supernova, karya Dee Lestari. Dibutuhkan waktu delapan tahun, bagi Partikel untuk hadir menemui pembacanya. Sebuah jangka waktu yang amat panjang untuk memproduksi sebuah karya. Menurut penulisnya, dalam durasi tersebut, Partikel digodok, digarap, dimatangkan dan ditransformasi menjadi kata-kata. Tidak sia-sia menanti selama sewindu, karena Partikel menjelma sebagai seri Supernova yang paling meninggalkan kesan. Paling tidak menurut saya. Meski dibaca berulang-ulang, kesan itu tetap tidak juga hilang.
Partikel
Partikel diterbitkan oleh Penerbit Bentang (PT Bentang Pustaka). Pada Agustus 2017, novel ini sudah dicetak ulang sebanyak enam kali. Memiliki total halaman, kurang lebih 490 lembar. Sama seperti seri lainnya, novel ini juga memiliki tampilan simbolnya sendiri. Simbol berwarna hijau, berupa lingkaran dengan tanda palang di tengahnya. Kenapa hijau? Mungkin, karena novel ini mengajak untuk memahami dunia hayati melalui fiksi. Iya, Partikel mengajak kita untuk sejenak menoleh ke sekitar. Ke Bumi di mana kita bertumbuh, beserta dengan segala makhluk yang ada di dalamnya. Termasuk manusia, tentunya.

Kamis, 10 Mei 2018

Aroma Karsa - Kolaborasi Duniawi dan Imajinasi


Satu lagi novel baru karya Dee Lestari di rilis. Kali ini berjudul ‘Aroma Karsa’. Sebelum bentuk fisiknya dijual secara konvesional, novel ini sempat dirilis secara digital. Dari dulu sebenarnya saya ini membeli novel ini, cuma selalu tertunda. Ah nanti saja, ah nanti saja. Begitu seterusnya, sampai akhirnya ‘Aroma Karsa’ ada di tangan saya dengan sendirinya. Hadir dalam bentuk kado hadiah ulang tahun. Mungkin ini yang dimaksud dengan ‘kalau sudah jodoh, tidak akan lari kemana’. Terima kasih kepada adik saya, Ramayoga, sehingga novel ini bisa saya miliki.
Aroma Karsa
Novel ‘Aroma Karsa’ memiliki 696 halaman. Iya, novel ini tebal sekali. 696 halaman itu sendiri, di luar halaman daftar isi, dari penulis, tentang penulis, dan halaman tambahan lainnya. Novel versinya cetak diterbitkan oleh PT. Bentang Pustaka. Sedangkan versi digitalnya dirilis melalui Bookslife. Novel yang ada di tangan saya adalah terbitan pertama, Maret 2018.

Senin, 02 April 2018

Belajar Jarak Jauh Bersama Ibu Suri


Entah kenapa, tanggal 1 April yang lalu saya iseng membuka Instagram. Padahal jarang banget akun yang satu ini saya buka. Lagian buat apa coba. Punya tampang pas-pasan, kalau tidak boleh dibilang jelek. Nggak pernah nongkrong di tempat-tempat mahal. Nggak pernah gaul sama artis atau orang terkenal. Nggak punya pakaian ber-merk buat dipamerin. Pokoknya nggak memenuhi syarat buat jadi Instagram-ers deh. Eh, eh, fokus, ini mau cerita apaan sih sebenernya???
Sumber: StorialCo IG
Maaf, maaf, ayo kita kembali ke topik. Waktu buka Instagram, saya dapati akun StorialCo, yang saya ikuti, sedang melakukan ‘siaran langsung’. Istilah kerennya, Instalive. Bukan sekedar siaran langsung biasa saja loh, karena menampilkan Kelas Menulis: Creative Writing 101 with Dee Lestari. Sang Ibu Suri, kalau pinjam istilah StorialCo dan NulisBuku. Saya tahu kalau diadakan sayembara menulis khusus, untuk bisa terpilih mengikuti kelas ini. Hanya saja, saya tidak ikut karena belum siap anggaran buat keluar kota. Kan tadi di awal sudah ngaku miskin hehehe...
Awalnya saya pikir siaran langsung ini akan berlangsung singkat. Kirain admin StorialCo cuma mau pamer doang, atau mau bikin iri kita-kita yang tidak ikutan. Eh, usut punya usut, kok siaran langsungnya nggak berhenti-berhenti. Baik banget loh admin StorialCo ini, sumpah. Saya bisa bayangin, bagaimana pegelnya itu tangan pegang HP seharian. Nggak goyang-goyang loh, stabil sampai akhir. Keren deh pokoknya! Maka pada kesempatan ini, saya sebagai salah satu penikmat ‘siaran langsung’ hari itu, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya buat semua admin StorialCo. Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih...

Rabu, 06 April 2016

Supernova: Ledakan Besar Pada Galaksi Pernovelan


“Sebuah akhir akan melahirkan sebuah awal. Kata “Tamat” akan menggiring kita ke “Pendahuluan” yang baru. Sampai bertemu di kisah berikutnya.” – Dee Lestari

Inteligensi Embun Pagi

Qoute diatas sengaja saya kutip, karena itulah yang mewakili perasaan saya. Perasaan saat sampai di lembar teraktir Novel Supernova: Inteligensi Embun Pagi (IEP), karya Dee Lestari. Lembar terakhir - yang katanya - seri terakhir dari serial Novel Supernova. Hanya satu yang muncul di benak saya selesai menbaca. Supernova seharusnya belum berakhir. Kata TAMAT tidak cocok disematkan diakhir keping Inteligensi Embun Pagi. Keping 99, tepatnya. Terlalu banyak hal yang belum terjawab. Terlalu banyak pertanyaan yang justru muncul. Terlalu banyak.
Awal saya tenggelam dalam tarikan arus Supernova, karena sebuah ‘kecelakaan’. Jujur saya katakan. Novel seri pertama Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh (BPBJ), ada ditangan saya karena dipaksa. Saat itu saya masih duduk di bangku kuliah. Salah seorang teman wanita menyodorkan novel itu pada saya. Dengan hanya berbekal sebuah pesan: “Baca nih, cocok buat karakter kamu.” Padahal dia tahu saya bukanlah tipe pembaca novel. Menurut penilaian saya saat itu novel identik dengan drama, kisah cinta yang melankolis. Dimana semua itu saya nilai sangat membosankan, dan jauh dari realitas kehidupan. Saya sempat menolaknya, namun teman saya itu tetap memaksa. Jadilah KPBJ teronggok di kamar saya dua minggu lamanya. Tidak tersentuh, tidak dianggap ada.