Senin, 03 April 2017

Raih Kemenangan, Masih Butuh Perbaikan


Jumat, 31 Maret 2017, kembali saya mengunjungi Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar. Kali ini untuk menonton kompetisi mini, yang bertajuk Trofeo Bali Island Cup (TBIC) 2017. Kompetisi ini mempertemukan tiga tim, yaitu Bali United (sebagai tuan rumah), Celebest FC, dan 757 Kepri Jaya FC. Untuk dua tim terakhir, saya iseng mencari informasi di google, karena cukup asing di telinga.

Trofeo Bali Island Cup 2017

Celebest FC adalah klub yang bermarkas di Palu, Sulawesi Tengah, dan akan berlaga di Liga Indonesia 2. Didirikan pada 11 Pebruari 2016, sangat muda untuk sebuah klub sepak bola. Dulunya klub ini dikenal sebagai Villa 2000 FC, bermarkas di Pemulang, Tangerang Selatan. Sedangkan 757 Kepri Jaya FC juga merupakan klub yang akan berlaga di Liga Indonesia 2. Merupakan tim yang bermarkas di Batam, Kepulauan Riau, dimana dulunya bernama PS Bintang Jaya. Diatas kertas sih seharusnya Bali United tidak akan kesulitan menang.

Jumat, 24 Maret 2017

Menutup Bab Tiga Puluh Tiga


Kisah ini tentang seorang laki-laki. Dia ingin Bab Ketiga Puluh Tiga dari hidupnya bisa berakhir seru. Maka dia memutuskan sebuah perjalanan nekad ke kota Yogyakarta. Sebuah kota yang sudah lama ingin didatangi, namun belum ada waktu untuk dijelajahi. Sebut saja nama laki-laki ini Dewa, dan ini adalah kisahnya.


Berawal dari sebuah kebetulan, Dewa membaca sebuah twit dari komunitas menulis. Diinfokan tentang kegiatan kumpul penulis dengan metode kelas belajar. Nah, mumpung ada waktu kenapa tidak main ke Yogya aja nih, itu yang dipikirkannya saat itu. Kebetulan saat itu dia sedang nganggur, jadi punya banyak waktu kosong dong. Kan bisa sambil menyelam minum air mineral tuh, tambah lagi dalam benaknya. Sambil travelling bisa nambah ilmu. Maka disusunlah rencana perjalanan ‘nekad’ itu. Iya, bisa dibilang nekad karena dia sama sekali buta tentang Yogya. Yang Dewa tahu Yogya itu ada di Jawa Tengah, sudah itu saja. Itu saja. Dengan persiapan hanya tiga hari, praktis dia hanya bisa bertanya tentang Yogya kepada mbah Google. Untuknya si mbah nggak keberatan ditanya-tanya mendadak kayak gitu.
Di hari-H, Jumat 170317 (tanggalnya cantik kan?), perjalanan dari Ngurah Rai menghabiskan waktu sejam lima belas menit. Tiba di Adi Sucipto, saking tidak tahunya Yogya, Dewa sampai bingung cara keluar dari bandara. Iya, memang sebegitu butanya dia dengan Yogya. Kata mbah Google, Bandara Adi Sucipto itu kecil. Yah sekecil-kecilnya bandara, tetep nggak mungkin dong ukurannya sedaun kelor kan?

Minggu, 12 Maret 2017

Entah


Kalau dilihat-lihat ternyata belum ada tulisan saya mengenai musik. Maka pada tulisan kali ini saya ingin membahas sedikit tentang lagu. Sebuah lagu lama yang dinyanyikan oleh Iwan Fals, berjudul Entah. Sebelum anda komentar, saya akan komentar duluan. Iya, lagu itu memang lawas, sangat lawas malah. Wajar dong, saya kan sudah tua hahaha...
Kenapa dan ada apa dengan lagu Entah? Saya menyukainya karena liriknya yang jujur. Menurut saya lagu ini adalah lagu romantis yang realistis, tidak puitis namun terkesan manis. Mari kita kutip sedikit lirik dari lagu Entah : 


Seperti biasa aku tak sanggup berjanji, hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini. Entah esok hari, entah lusa nanti, entah...
Sungguh mati perempuanku, aku tak mampu beri sayang yang cantik seperti kisah cinta di dalam komik.
Lanjutkan saja langkah kita, rasalah... rasalah... apa yang terasa... apa yang terasa... apa yang terasa...

Rabu, 22 Februari 2017

SPLIT : Perang Kepribadian Satu Badan


SPLIT, judul film yang terakhir saya tonton. Satu-satunya pilihan ketika iseng datang ke bioskop, karena film ini jadwal terakhir diputar. Sebelumnya saya pernah membaca beberapa sinopsis tentang ‘Split’. Rata-rata memberi nilai cukup lumayan. Tagline dari film ini yang sebenarnya membuat penasaran. “Kevin has 23 distinct personalities. The 24th is about to be unleashed.” Oke, kepribadian ganda sih sudah biasa saya dengar, lah ini 23 kepribadian? Dan yang ke-24 akan segera terlepas? Nggak kebanyakan tuh? Itu pertanyaan yang muncul di otak saya.


Film bertema triller-psikologis, sudah banyak diangkat ke layar lebar. Sebut saja beberapa film yang pernah saya tonton, seperti: The Silence of the Lambs, Black Swan, Gone Girl, dan The Uninvited. Semuanya bergenre triller, dengan nuansa psikologis yang kuat. Saya cukup suka film dengan tema-tema seperti ini. Membuat kita tegang, sekaligus menebak-nebak kemana alur film akan bergerak. Dimana kira-kira ‘twist’ akan terjadi. Begitu pula dengan film Split. Walaupun secara jujur, alur film ini kurang begitu greget menurut penilaian saya pribadi, penikmat film awam. Hanya kekuatan akting dari James McAvoy saja yang menolong alur dari film ini. Tahu James McAvoy kan? Itu loh si Profesor-X versi muda di alur ‘maju-mundur cantik’-nya serial X-Men. Jadi yah gitu, nilai film ini nggak jelek-jelek amat, tapi nggak bagus-bagus amat juga. Seven of Ten-lah kira-kira.

Bali United, United For Bali


Saya adalah pencinta sepak bola. Suka menonton saja sih, soalnya main langsung saya kurang bisa. Saya lebih jago bermain tepok bulu, alias bulutangkis. Kalau sekedar menendang bola sih bisa, lebih dari itu... ya sudahlah, tidak usah dibahas.
Sebagai pencinta sepak bola, tentu kiblat tontonan yang asyik adalah liga-liga Eropa. Diantara liga-liga dunia yang ada, Liga Inggris (English Primer League) adalah favorit saya. Persaingan yang ketat, dan berlimpahnya pemain-pemain bola papan atas, membuat liga ini asyik diikuti. Selain karena adanya Manchester United (MU) disana, klub sepak bola jagoan saya. Sebenarnya ada satu lagi liga dunia yang asyik diikuti, yaitu Liga Champion. Hanya saja, sejak dua tahun kebelakang MU absen dalam ajang ini, saya jadi agak malas mengikuti perkembangannya.
Liga dunia memang menarik, namun tetap kita tidak boleh lupa pada liga negeri sendiri. Sebagai orang Indonesia, khususnya orang Bali, klub domestik yang saya dukung adalah Bali United. Sebuah klub sepak bola yang bermarkas di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali. Kali terakhir saya menonton langsung di stadion ini tepat tiga hari yang lalu. Saat itu dipentaskan pertandingan terakhir penyisihan Grup 4 Piala Presiden 2017. Dari dua kali hasil seri pada laga sebelumnya, Bali United dituntut menang di laga terakhir ini, agar bisa lolos ke 8 besar. Lawan kali ini adalah Barito Putra, Banjarmasin. Hal ini yang mendasari saya untuk menonton langsung ke stadion. Bahkan saya menonton dari Tribun Timur, Gate 8 Reguler, agar bisa bergabung dengan ratusan suporter lainnya. Merasakan langsung atmosfer stadion, dan keramaian yang ada disana. Biasanya saya menonton dari Tribun VIP, yang menurut saya suporternya agak sedikit jaim.

Jumat, 17 Februari 2017

Pendamping Hidup


Mumpung kita lagi ada di bulan (yang katanya) penuh cinta, saya akan menulis tentang cinta. Tentang pendamping hidup (jodoh) sih tepatnya. Sebuah tulisan singkat. Ide tulisan ini muncul dari hasil menonton tiga buah film, yaitu A Beautiful Mind, A Beautiful Life dan The Theory of Everything. Ketiga film ini menampilkan tiga orang sosok wanita yang luar biasa. Wanita luar biasa yang mendampingi si tokoh utama pria, dengan segala kekurangannya.
Film A Beautiful Mind dibintangi oleh Russell Crowe dan Jennifer Connelly. Mengisahkan tentang seorang matematikawan John Nash, peraih nobel dalam bidang ilmu ekonomi pada tahun 1994. Dia adalah seorang matematikawan jenius tetapi tak simpatik dan agak apatis. Dimulai ketika dia bersekolah di Princeton dengan mendapat beasiswa Carniege. John Nash merupakan mahasiswa yang unik, tidak menyukai perkuliahan dan suka membolos. Menurutnya berkuliah hanya membuang waktu, mengekang kreativitas seseorang, dan membuat otak menjadi tumpul. Nash lebih suka berada di luar kelas demi mendapatkan ide orisinil untuk gelar doktornya. Di lain sisi Nash mengidap penyakit gangguan jiwa skizofrenia, yaitu suatu gangguan jiwa yang penderitanya tidak bisa membedakan antara halusinasi dan kenyataan. Penyakit ini terus saja membayangi kehidupan Nash, sampai dia bertemu dengan Alicia Larde, mahasiswinya, dan kemudian menikah. Bukannya sembuh, penyakit Nash ini justru semakin memburuk. Disinilah peran Alicia Larde, sebagai pendamping hidup Nash diuji. Benar-benar diuji.

Rabu, 15 Februari 2017

Melelahkan Tetapi Menyenangkan


Nung-Nung Waterfall
Petualangan kali ini membawa saya ke Kabupaten Bandung. Desa Plaga, Kecamatan Petang, tepatnya. Akhir-akhir ini saya memang lagi suka banget berpetualang. Paling tidak ke objek-objek wisata di Bali. Malu juga sih sebagai orang Bali, kalau tidak tahu keindahan Bali. Kebetulan saya juga sedang keranjingan hobi baru, yaitu fotografi. Maklum kamera baru sih, membuat tangan jadi gatal mengutak-atik hehehe...
Nah, di Desa Plaga ini ada sebuah air terjun yang indah. Informasi ini saya dapat dari teman yang berprofesi sebagai pemandu wisata. Dia merekomendasi air terjun ini untuk saya datangi. Maka berangkatlah saya dari Denpasar, menjelang tengah hari. Ternyata letaknya cukup jauh. Menghabiskan waktu selama hampir dua jam perjalanan. Panjangnya perjalanan sebagian besar disebabkan adanya jalan yang putus di daerah Petang. Jalan alternatif yang harus ditempuh jadi memutar jauh. Namun, tidak saya sesali sih, karena alam hijau disepanjang perjalanan benar-benar memanjakan mata. Suasana asri dan alami pedesaan benar-benar terasa. Cocok bagi anda yang ingin sejenak melepas lelah dari hiruk-pikuknya perkotaan.
Sampai di pintu masuk, ada sebuah pos karcis di sebelah kanan. Saya langsung disambut oleh seorang bapak paruh baya yang ramah. Sebelum turun ke areal parkir saya coba tanya-tanya sedikit informasi ke bapak itu. Maklum ini pertama kali saya datang ke tempat tersebut. Ternyata penjelasan si bapak sama dengan gambaran dari teman saya. Saya harus bersiap diri latihan fisik menuruni ratusan anak tangga, terutama lutut dan paha. Setelah membayar karcis masuk objek wisata, sebesar 7.500 rupiah, saya parkir kendaraan. Di sudut areal parkir ada sebuah warung sederhana. Warung itu dijaga oleh seorang nenek yang ramah. Nenek itu menunjuk ke sebuah gapura berukiran bali, yang merupakan jalan masuk menuju air terjun Nung-Nung.