Ketika rasa
sakit itu datang rasanya sungguh menyiksa. Keringat dingin mengucur deras.
Tubuh mengejang hebat. Setiap sendi terasa kaku. Setiap syaraf terasa
ditusuk-tusuk jarum. Kadang aku mengerang, kadang aku berteriak, agar rasa sakit
yang melanda bisa berkurang. Sungguh cobaan yang luar biasa. Semua itu telah jadi
‘rutinitas’, hampir separuh dari hidupku. Pil dan serbuk terlarang yang aku
konsumsi adalah penyebabnya.
Ditengah ‘ritual’
penuh kekacauan itu, bersyukur selalu ada dia disisiku. Dialah ibuku. Dialah
malaikatku Dia yang dengan sentuhannya dapat menenangkan aku. Genggaman
tangannya yang lembut selalu membuatku merasa nyaman. Suara merdunya perlahan-lahan
akan membuat aku kembali tenang. Sebuah lagu yang biasa dia dendangkan. Lagu pengantar
tidur warisan nenek.
Setiap
kali mengingat masa-masa itu, air mataku pasti akan menetes. Masa beberapa
tahun ke belakang. Masa kelam dalam hidupku.






